kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Investasi migas & batubara jadi tumpuan, PR bagi Menteri ESDM periode dua Jokowi


Sabtu, 12 Oktober 2019 / 10:50 WIB

Investasi migas & batubara jadi tumpuan, PR bagi Menteri ESDM periode dua Jokowi
ILUSTRASI. Pertamina Hulu Mahakam lakukan pengeboran Blok Mahakam demi tekan penurunan produksi


KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada periode Menteri ESDM Ignasius Jonan-Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar sudah menyelesaikan berbagai tugas prioritas yang menjadi visi dan misi Presiden Joko Widodo.

Jonan sudah menyelesaikan program BBM Satu Harga, program 35.000 MW yang terbilang sukses dilihat dari lelang yang sudah selesai, listrik desa, dan listrik 3T, lalu soal perizinan juga sudah diperbaiki.

Baca Juga: Hulu migas Indonesia mulai kembali dilirik investor, saatnya eksplorasi dimassifkan

Selain itu juga ada divestasi 51% saham Freeport, peningkatan nilai tambah dengan menyetop ekspor nikel, smelter mulai dibangun, meningkatkan nilai tambah batubara, dan banyak lagi.  

Namun demikian, harus diakui juga bahwa ada dua sektor yang masih harus mendapat penekanan agar terus mendapat perhatian bagi Menteri ESDM baru nanti dan Kepala SKK Migas. Dua sektor itu adalah sektor hulu migas dan tambang batubara.

Investasi Hulu Migas

Tahun Investasi Hulu Migas
2014 US$ 21,7 miliar
2015 US$ 17,9 miliar
2016 US$ 12,7 miliar
2017 US$ 11 miliar
2018 US$ 11,9 miliar
2019 US$ 5,21 miliar (Jan-Juni 2019) belum masuk Masela

Perhatian khusus mesti diberikan lantaran sejauh ini, industri hulu migas dan tambang batubara masih menjadi tumpuan pendulang investasi dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Data pemerintah menyebutkan, bahwa realisasi penerimaan SDA Migas pada periode Januari-Agustus mencapai Rp 68,22 triliun atau 42,69% dari target APBN tahun 2019. Sedangkan untuk keseluruhannya, untuk PNBP di bidang Sumber Daya Alam (SDA) mencapai  Rp 87,25 triliun atau 45,74% dari target APBN tahun 2019.

Adapun investasi hulu migas Januari hingga Juni mencapai US$ 5,21 miliar. Pencapaian semester I-2019 itu belum mencapai separuh dari target tahun 2019. Adapun target investasi hulu migas tahun 2019 mencapai  US$ 14,79 miliar.

Baca Juga: Fahmy Radhi: Investasi Masela US$ 19,8 miliar adalah yang terbesar sepanjang sejarah

Sedangkan investasi di sektor mineral dan batubara (Minerba) baru mencapai US$ 2,19 miliar atau 35,49% dari target di sepanjang tahun ini yang mencapai US$ 6,17 miliar.

Melihat data itu, tidak ada kata lain selain menggenjot bisnis di bidang migas dan bidang batubara supaya investasi semakin deras masuk dan PNBP yang dihasilkan maksimal.

Pada periode Menteri ESDM Ignasius Jonan sebenarnya sudah ada bekal yang bagus untuk menarik investor migas datang ke Indonesia dengan berjalannya proyek Lapangan Abadi, Blok Masela, Laut Arafuru, Maluku.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, pihaknya ingin investasi hulu migas mengalir deras ke Indonesia.  Saat ini SKK Migas bahkan mempunyai dua tugas, mengawasi industri hulu migas dan juga mendatangkan investor hulu migas agar mereka mau melakukan eksplorasi di Indonesia untuk menambah cadangan migas.

Dwi menyebut kata “marketing” sebagai kunci mendatangkan para investor migas kakap agar mau melirik kembali potensi migas di Indonesia yang masih sangat besar.

Data SKK Migas menyebutkan bahwa ada 74 cekungan yang masih memiliki potensi migas besar. Dari sana, Indonesia membutuhkan investor besar yang mau menaruh dananya untuk mencari cadangan migas dan memproduksinya.

Baca Juga: Lapor investasi Masela ke Jokowi, Menteri ESDM Ignasius Jonan dapat apresiasi

Dwi Soetjipto menerangkan, dengan berbagai upaya SKK Migas untuk melakukan roadshow ke beberapa negara, hasilnya kini sudah terlihat meskipun masih dalam tahap studi. “Posco (perusahaan Korsel), akan joint study mencari cadangan migas di Indonesia,” kata dia beberapa waktu lalu ke Kontan.co.id.

Ia mengatakan, keinginan investor kembali datang ke Indonesia karena mendengar berjalannya proyek Lapangan Abadi, Blok Masela. Proyek dengan nilai US$ 19,8 miliar itu menjadi salah satu pemicu menggeliatnya bisnis hulu migas di Indonesia.

Meskipun memang masih ada beberapa pertanyaan dari investor di luar sana soal iklim bisnis di Indonesia. “Mereka tidak ingin seringnya aturan berubah,” imbuh dia.


Reporter: Azis Husaini
Editor: Azis Husaini

Video Pilihan


Close [X]
×