kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
FOKUS /

Indonesia di Ambang Perang Dagang? (2)

Kamis, 09 Agustus 2018 / 16:11 WIB

Indonesia di Ambang Perang Dagang? (2)
ILUSTRASI. Menakar Dampak Perang Dagang



Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan bahan-bahan untuk pertemuan itu. Yang jelas, “Dalam pertemuan kami akan menyampaikan, bahwa Indonesia masih layak dinyatakan sebagai negara yang berhak menerima GSP,” ujar Oke.

Kendati masih memilih berdialog dan melakukan lobi-lobi, pemerintah juga siap mengambil tindakan tegas jika AS tetap dengan rencananya tersebut.

“Kalau dapat tekanan, maka perang dagang bisa kita lakukan. Sama halnya AS dan China,” sebut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Defisit yang terjadi dalam hubungan dagang AS–Indonesia, Enggartiasto menilai, sebetulnya lebih lantaran perbedaan data. “Kami kirim surat dan menyampaikan ada perbedaan angka defisit mereka dengan surplus kita,” jelas dia.

Dan, menurut hitungannya, surplus neraca dagang Indonesia bukan berasal dari produk ekspor yang ada di daftar GSP.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) per 25 Juni lalu, AS merupakan satu dari tiga pasar ekspor nonmigas terbesar Indonesia.

Ekspor nonmigas kita ke AS sepanjang Januari– Mei 2018 tercatat 10,91% dari total ekspor atau US$ 7,43 miliar. Jumlah ini meningkat dibanding periode sama di 2017 sebesar US$ 7,17 miliar.

Peringatan dini

Hanya, menurut Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), pemerintah tidak perlu melihat langkah AS yang mengkaji GSP sebagai ancaman perang dagang.

Tapi, lebih sebagai peringatan dini (early warning) agar kita segera berunding, bagaimana meningkatkan volume dan nilai perdagangan yang saling menguntungkan. Meski begitu, “Pemerintah harus menyikapi masalah ini dengan serius,” ujar dia.

Khusus untuk tekstil dan produk tekstil (TPT), Ade mengklaim, sejak 2005 lalu, GSP ke sektor ini sudah tidak ada. Saat ini, ekspor TPT ke AS terkena bea masuk bervariasi, 11%– 30%.

“Vietnam masih dapat GSP sehingga pertumbuhan ekspornya bisa double digit. Kita hanya tumbuh di kisaran 1%, bahkan pernah minus,” bebernya.

Pendapat senada juga datang dari Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Shinta Kamdani. Pemerintah memang harus serius menyikapi keputusan AS mengkaji GSP.

Sebab, ini penting untuk menjaga hubungan perdagangan kedua negara yang saling menguntungkan. “GSP kepada Indonesia menguntungkan semuanya, termasuk pelaku usaha dan konsumen AS,” ucapnya.

Sesuai ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Dradjad H. Wibowo, ekonom senior Indef, menuturkan, GSP merupakan kebijakan perdagangan sepihak atau unilateral dari negara maju untuk membantu negara berkembang.

Sejak 1974 silam, AS sudah banyak memberikan fasilitas tersebut. Saat ini, setidaknya terdapat 112 negara merdeka dan 17 teritori yang menikmati fasilitas itu.

Selain Indonesia,  negara ASEAN yang mendapatkan keringanan bea masuk adalah Thailand, Filipina, Kamboja, Vietnam, dan Myanmar.

Saban tahun, USTR mengkaji penerima GSP. Nah, 13 April lalu, mereka mengumumkan akan melakukan kajian atas kelayakan tiga negara mendapat fasilitas itu: Indonesia, India, dan Kazakhstan.

Jadi selama ini, AS sudah berbelaskasihan ke Indonesia. “Sekarang mau ngecek, apakah masih pantas,” kata Drajat.

Kalaupun AS menghentikan fasilitas itu, bukan berarti mereka mengobarkan perang dagang. Dari sisi skala nilai impor pun, Indonesia tidak level jika diajak perang dagang oleh AS.

Drajat menyebutkan, nilai impor Indonesia relatif sangat kecil, hanya US$ 19,6 miliar pada 2015 mengacu data USTR. Artinya, cuma 1/25 ketimbang nilai impor dari China, 1/15 dari impor Kanada dan Meksiko, lebih dari 1/7 impor Jepang. Jadi, “Terlalu kecil,” sebut dia.

Tetap jangan anggap enteng ancaman dari Trump.              ◆

Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Laporan Utama Tabloid KONTAN edisi 16 Juli- 22 Juli  2018. Artikel berikut data dan infografis selengkapnya silakan klik link berikut: "Indonesia Diambang Perang Dagang?"


PERANG DAGANG GLOBAL

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0029 || diagnostic_api_kanan = 0.6096 || diagnostic_web = 2.0404

Close [X]
×