kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45983,50   1,55   0.16%
  • EMAS1.179.000 1,29%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%
FOKUS /

Harga Nikel Diramal Turun Lagi, Emas Justru Diprediksi Cetak Angka Tertinggi di 2024


Senin, 01 Januari 2024 / 12:00 WIB
Harga Nikel Diramal Turun Lagi, Emas Justru Diprediksi Cetak Angka Tertinggi di 2024
ILUSTRASI. Granules of 99.99 percent pure gold and silver are seen in glass jars at the Krastsvetmet non-ferrous metals plant, one of the world's largest producers in the precious metals industry, in the Siberian city of Krasnoyarsk, Russia November 22, 2018. Picture taken November 22, 2018. REUTERS/Ilya Naymushin


Reporter: Akhmad Suryahadi, Nur Qolbi, Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jor-joran produksi nikel di Indonesia menjadi salah satu penyebab penurunan harga komoditas logam ini. Harga nikel turun 44,74% sepanjang tahun 2023. Penurunan harga nikel ini paling dalam jika dibandingkan dengan komoditas logam lain, baik logam industri maupun logam mulia.

Harga nikel pun mencatat penurunan paling tajam sejak tahun 2008. Sementara harga tembaga naik tipis 2,2% sepanjang 2023. Harga timah pun menguat 2,45% setahun penuh. Harga bijih besi menguat 20% di pasar Singapura.

Harga logam tertekan oleh perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian outlook pertumbuhan China. Indeks enam logam di London Metal Exchange turun 5,6% sepanjang tahun 2023, yang merupakan penurunan tahun kedua.

"Pasokan nikel terus tumbuh tetapi konsumsi tidak menunjukkan perbaikan," kata analis Huatai Futures dalam catatan yang dikutip Bloomberg

Investor pun bertaruh bahwa harga nikel masih akan turun. Posisi net-short nikel terbesar di antara logam lain pada 20 broker terbesar di Shanghai Futures Exchange dalam enam bulan terakhir.

Baca Juga: Harga Batubara & Gas Alam Jeblok, Harga Minyak Ditopang Konflik Geopolitik di 2023

Logam Akhir 2023 Akhir 2022 % Harga Rata-Rata 2023
Logam Industri (US$ per metrik ton)
Nikel 16.603 39.948 -58,44 21.688
Timah 25.415 24.808 2,45 25.912
Tembaga 8.559 8.372 2,23 8.523
Logam Mulia (US$ per ons troi)
Emas 2.062,98 1.824,02 13,10 1.943,13
Paladium 1.100,24 1.792,68 -38,63 1.340,17
Platinum 991,9 1.074,29 -7,67 967,58
Perak 23,79 23,95 -0,67 23,4

Analis BRI Danareksa Sekuritas Hasan Barakwan memproyeksi kelebihan pasokan nikel masih akan terjadi. Hal ini didorong oleh naiknya produksi nikel dari Indonesia dan beroperasinya smelter baru nikel kelas 1 baru di China.

Analis MNC Sekuritas Alif Ihsanario menilai, nasib nikel kemungkinan belum akan membaik tahun depan. Lantaran, prospek nikel masih dibayangi lesunya aktivitas perekonomian China dan penurunan sektor properti di negeri panda tersebut.

Sementara, kenaikan harga tembaga terutama disokong oleh penguatan di kuartal keempat. Kenaikan harga tembaga dipicu oleh optimisme bahwa Federal Reserve akan segera memulai pemangkasan suku bunga tahun depan.

Goldman Sachs memperkirakan, harga tembaga akan menyentuh US$ 10.000 per metrik ton dalam 12 bulan ke depan.

Baca Juga: Rekomendasi Saham Blue Chip Pilihan Tahun 2024 Usai LQ45 Naik 3,56% pada 2023

Pada logam mulia, emas mencatat kenaikan tertinggi. Harga emas spot naik 13,10% sepanjang 2023 dan ditutup pada US$ 2.062,98 per ons troi. Sementara harga paladium mencatat kinerja terburuk di barisan logam mulia.

Kenaikan harga emas disokong oleh prediksi pemangkasan suku bunga di tahun depan. Selain itu, pembelian emas oleh bank-bank sentral dunia menjadi penopang besar. 

Bloomberg melaporkan, exchange-traded fund (ETF) menambahkan koleksi emas dan perak. Tetapi, reksadana berbasis komoditas yang ditransaksikan di pasar justru mengurangi kepemilikan paladium.

Baca Juga: Harga Emas Antam dan UBS Hari Ini (1/1) di Pegadaian Kompak Stagnan, Cek Updatenya

PT Deu Calion Futures (DCFX) memprediksi, harga emas akan terus meningkat pada tahun 2024. Hal ini didorong oleh adanya kemungkinan bahwa nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) akan cenderung melemah lebih lama akibat gagal bayar dan pengaruh untuk membayar obligasi.

Kondisi tersebut bakal mendorong investor untuk meninggalkan dolar AS dan beralih ke aset safe haven lainnya, yakni emas. Pada tahun 2024, The Fed juga berencana untuk menahan suku bunga acuannya lebih lama sehingga tidak menutup kemungkinan penurunan dolar AS. 

The Fed pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat menjadi hanya 1,5% pada tahun 2024, laju yang moderat tapi positif. Federal Open Market Committee (FOMC) memproyeksikan tingkat pengangguran AS rata-rata sebesar 4,1% pada tahun 2024, masih jauh di bawah rata-rata jangka panjang sekitar 5,7%.

Inflasi AS juga diprediksi akan cenderung mengalami penurunan yang cukup lama karena pengaruh dari gagal bayar utang dan sudah mencapai batas limit utang. "Hal ini akan berpengaruh juga terhadap penurunan dolar AS yang cukup lama dan investor cenderung meninggalkan dolar AS," kata analis DCFX Andrew Fischer, Jumat (15/12). 

Andrew memprediksi, harga emas akan mencatatkan harga all-time high (ATH) baru pada 2024 setelah mencapai ATH US$ 2.148 per ons troi pada awal Desember 2023. Target harga tertinggi pertama untuk emas pada tahun 2024 adalah sebesar US$ 2.200 per ons troi.

Setelah itu, harga emas akan mencatatkan koreksi terlebih dahulu. Kemudian, harga emas diprediksi akan menguji ATH baru lagi di level US$ 2.400 per ons troi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Corporate Financial Planning & Analysis Mastering Data Analysis & Visualisation with Excel

[X]
×