kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.043
  • EMAS656.000 -0,23%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%
FOKUS /

Faisal Basri, Ekonom UI: Infrastruktur muluskan penetrasi barang impor

Kamis, 31 Januari 2019 / 08:00 WIB

Faisal Basri, Ekonom UI: Infrastruktur muluskan penetrasi barang impor

KONTAN: Bagaimana dengan argumentasi bahwa impor dilakukan untuk mengendalikan harga?  Dan memang, inflasi kita kan cukup terjaga?
FAISAL:
Harus diingat, mengamankan harga itu pada level berapa. Misalnya, harga di negara antah berantah 100, tahun lalu. Tahun ini 150. Jadi inflasinya 50%.

Di Indonesia, harga 1000 terus naik menjadi 1.100. Inflasinya 10%. Lebih rendah dibanding negara antah berantah, tapi levelnya tinggi.

Rente itu terkait dengan level. Inflasi rendah tapi pada harga yang tinggi. Sehingga, konsumen harus merogoh kocek lebih dalam sehingga daya beli terpukul.

Ingat, harga beras kita juga lebih mahal daripada harga dunia. Syukur kalau petani yang menikmati, masalahnya pemburu rente yang menikmati.

Jadi jangan berhenti pada inflasi. Inflasi rendah bisa jadi pada level harga yang sangat tinggi. Stabil tinggi. Jadi tuntutannya masyarakat minta kenaikan upah.

KONTAN:  Soal perburuan rente, sinyalemennya dilihat dari apa?
FAISAL: 
Selisih harga gula di Indonesia dan selisih harga gula di dunia. Intinya harga kita lebih mahal.

Pada awal Jokowi menjabat, harga gula di pasar Indonesia dibandingkan  dengan harga internasional 2,6 kali lipat. Tapi sekarang selalu di atas 3 kali lipat. Khususnya pasca pak Enggar menjabat. Semakin lebar harganya, maka potensi rentenya pun makin tinggi.

Harga dunia turun tajam, tapi harga Indonesia turun landai. Kalau  harga dunia naik, harga di Indonesia ikut naik cepat.

Dari perbedaan harga ini, kita masuk ke supply dan demand gula.

Kalau Indonesia membolehkan ekspor dan impor bebas, maka apa yang terjadi? Harga dunia akan sama dengan di Indonesia.

Pada harga rendah konsumen untung. Oleh karena itu lah pemerintah membatasi impor.

Ringkas kata, ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Yang rugi? Konsumen pastinya. Produsen? Ada untung, namun belum puas agar bisa dinaikkan keuntungannya.

Kalau menghambat impor dengan bea masuk, maka uang akan masuk ke pemerintah.

Kalau dengan kuota, tidak bayar secara resmi. Tapi secara tidak resminya, enggak ada yang gratis. Itulah yang namanya rente.

Nilainya, hitungan saya, triliunan. Tidak hanya di Indonesia, hal seperti ini juga terjadi di negara lain seperti Amerika Serikat

Pertanyaannya, mengapa korupsi ratusan juta, misal anggota DPRD dipenjara beberapa tahun,  sementara korupsi triliunan ini lancar seperti jalan tol?  Korupsi kebijakan ini yang harus ditangani juga. Mengapa? Inilah tugas media.

Kalau harga beras tinggi, semua menjerit. Kalau harga pesawat naik semua menjerit.

Nah,  mengapa kalau harga gula tinggi tidak ada yang menjerit? Karena sebanyak-banyaknya kita konsumsi gula, nilainya per orang per tahun tak begitu besar. Ongkos demo ke istana saja bisa lebih besar daripada nilai penurunan harga gula. Namun jangan salah, triliunan tadi dibagi hanya ke 11 pengusaha gula rafinasi.

Jadi, pengusaha punya insentif untuk tetap berburu rente berapapun selama masih masuk hitungan mereka. Itulah yang bisa menjelaskan apa yang terjadi.

KONTAN: Lantas, apa solusinya agar harga tak membuat konsumen menjerit, namun di sisi lain petani juga tidak mati ?


Reporter: Mesti Sinaga, Ragil Nugroho
Editor: Mesti Sinaga
Video Pilihan

TERBARU
Rumah Pemilu
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0570 || diagnostic_web = 0.4496

Close [X]
×