kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.143
  • SUN95,65 0,01%
  • EMAS668.000 0,60%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%
FOKUS /

Bisnis PGN bisa makin ngegas setelah mengakuisisi Pertagas

Senin, 28 Januari 2019 / 21:00 WIB

Bisnis PGN bisa makin ngegas setelah mengakuisisi Pertagas

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sudah menyelesaikan akuisisi PT Pertagas senilai Rp 20,1 triliun dengan kepemilikan 51% saham. Meski harus mengeluarkan dana Rp 20,1 triliun untuk akuisisi, sebagai gantinya PGN akan ketiban aset dari Pertagas yang mencapai US$ 1,87 miliar.

Asal tahu saja, dalam akuisisi itu, perusahaan dengan kode emiten PGAS itu mengambil semua anak usaha Pertagas, yakni Pertagas Niaga, Perta Arun Gas (PAG), Perta Kalimantan Gas (PKG), Perta Samtan Gas (PSG) dan Perta Daya Gas (PDG).

Adapun nilai aset PGN saat ini mencapai US$ 6,66 miliar ditambah aset Pertagas senilai US$ 1,87 miliar. Artinya total aset PGN menjadi US$ 8,53 miliar. Bukan saja aset yang bertambah, panjang pipa PGN juga akan memanjang pasca akuisisi Pertagas.

PGN tahun ini menargetkan bisa mengelola sampai 10.547 kilometer (km) pipa gas, sedangkan Pertagas memiliki panjang pipa gas sepanjang 9.677 km.

Pasca akuisisi itu, PGN Group mematok target mampu menggarap lini niaga gas bumi hingga 935 billion british thermal unit per day (bbtud). Dari segmen usaha transmisi gas, PGN group menargetkan penyaluran gas sebesar 2.156 juta kaki kubik per hari (mmscfd) sepanjang tahun 2019.

Sedangkan jumlah pelanggan yang akan dikelola PGN ditargetkan mencapai 244.043 pelanggan. Direktur Utama PGN Gigih Prakoso mengungkapkan target-target itu akan dicapai seiring dengan pelaksanaan program kerja yang efektif.

Antara lain, dengan pengembangan segmen distribusi di pasar utama dan optimalisasi operasi dan aset di Jawa bagian Barat dan Timur termasuk penyelesaian jalur pipa di beberapa lokasi.

Selain itu, sebagai sub holding gas, PGN juga diamanatkan untuk melakukan percepatan pembangunan dan pengoperasian Jargas. Untuk dapat merealisasikan target tersebut, PGN mengharapkan dukungan dari pemerintah dan seluruh stakeholder. “Ini yang kami katakan, bahwa sub holding gas akan lebih mampu untuk memeratakan dan menciptakan keadilan energi untuk masyarakat,” ujar Gigih, pekan lalu.

Kata Gigih, tahun ini PGN akan menambah jaringan gas atau jargas untuk wilayah operasi Serang, Banten. Penambahan jargas yang menyasar pengguna rumah tangga ini diharapkan akan meningkatkan penggunaan energi baik yang lebih terjamin dan murah.

Pembangunan jargas di wilayah Kabupaten Serang, Banten merupakan proyek yang didanai anggaran Kementerian ESDM. Untuk merampungkan pengerjaan jargas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan dana mencapai Rp 124,88 miliar.

Pada tahap pengoperasian nanti, PGN akan memanfaatkan sumber gas yang berasal dari ConnocoPhilips Grissik Ltd, dengan volume mencapai 0,2 mmscfd. Pekerjaan pembangunan jargas sesuai target dimulai pada Mei hingga akhir Desember 2018.

Dalam rencana pengoperasian, jargas tersebut akan mengaliri sebanyak 5.043 saluran rumah, tepatnya di wilayah Kecamatan Kramatwatu, Serang. “Perluasan Jargas ini adalah upaya bersama untuk memperluas dan pemerataan pemanfaatan kekayaan alam negeri ini,” ujarnya.

Gigih mengungkapkan, sejauh ini, pemerintah dan PGN bahu membahu melakukan perluasan pembangunan jargas. Ke depan kian banyak skema yang bisa digunakan untuk merealisasikan pembangunan Jargas.

“Sebab, gas merupakan energi masa depan yang sangat membantu kehidupan masyarakat. Indonesia melalui PGN mempunyai potensi besar sebagai penyangga dan pelayan bagi masyarakat,” ungkapnya. Kata dia, target hingga 2025 sesuai Rencana Umum Energi Nasional, jargas yang akan dibangun PGN bisa mencapai 4,7 juta saluran rumah tangga.

Selain dari rumah tangga, program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) harusnya bisa juga menambah penjualan gas PGN. Namun demikian, aturan yang terbit 2015 silam itu rupanya masih jalan di tempat. 

Asal tahu saja pemerintah saat itu menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 125 Tahun 2015 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga BBG untuk Transportasi Jalan. Upanya adalah mengganti penggunaan BBM menjadi gas yang lebih murah dan ramah lingkungan.

Namun, program konversi BBG hingga kini tersendat. PGN sendiri menilai potensi penggunaan BBG di sektor transportasi semakin membaik. 

Direktur Komersial PGN Danny Praditya lebih senang menyebut program ini sebagai diversifikasi, bukan konversi. "Kalau konversi itu berarti seluruh Indonesia harus punya program yang sama. Tetapi ini selected area, dimana ada gas dan infrastrukturnya, itu kami kembangkan untuk transportasi," ujar dia.

Kolaborasi antara pemerintah dan komunitas menjadi kunci penerapan BBG. "Kami punya contoh adanya intervensi pemerintah, seperti di Batam, pertumbuhannya menarik. Juga concern untuk mengembangkan komunitas. Seperti di Jakarta, kita punya komunitas Bajaj Gas. Di daerah lain seperti Sukabumi dan Serang juga ada komunitasnya," imbuh Danny.

Saat ini, PGN mengelola 13 SPBG, 4 mobile refueling unit (MRU), dan 1 pressure reducing station (PRS). Pertamina dan PGN tidak memasang target penambahan fasilitas pengisian BBG. "Kami ingin mengoptimalkan SPBG yang ada dulu, supaya secara operasional program ini terus berjalan, " tutur Danny.


Video Pilihan

TERBARU
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0430 || diagnostic_web = 0.3774

Close [X]
×