kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.196
  • EMAS672.000 0,90%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%
FOKUS /

Asa membangkitkan rupiah yang luruh: Bauran kebijakan demi keamanan (1)

Selasa, 02 Oktober 2018 / 16:52 WIB

Asa membangkitkan rupiah yang luruh: Bauran kebijakan demi keamanan (1)
ILUSTRASI. Asa Membangkitkan Rupiah yang Luruh

Persoalan lainnya, hedging tidak selalu menguntungkan di mata pengusaha. Perusahaan yang orientasi pasarnya domestik namun punya beban utang dollar AS, hedging bisa menjadi solusi yang menguntungkan.

Namun bagi eksportir, hedging bisa menambah beban biaya. “BI berani enggak menjamin kalau hari ini kami tukar US$ 2 juta dengan kurs Rp 15.000 per dollar AS, lalu sebulan lagi perlu untuk membayar bahan baku US$ 2 juta dengan kurs tetap Rp 15.000 tanpa tambahan biaya?” tandas  Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia.

Bukannya tidak mendukung kebijakan pemerintah dan BI, namun pengusaha juga dituntut untuk efisien agar bisa kompetitif. Dukungan bagi rupiah tetap diberikan dengan mengonversi sebagian DHE ke rupiah.

Di industri tekstil, secara rutin DHE dikonversi menjadi rupiah untuk mendanai pos pengeluaran gaji tenaga kerja sekitar 15% dan biaya operasional lain seperti listrik sekitar 5%.

Selain itu, API sudah menghimbau kepada semua anggotanya mengonversi DHE untuk membayar tenaga kerja dan biaya operasional hingga enam bulan ke depan. Biasanya, konversi DHE ke rupiah untuk keperluan semacam ini dilakukan saban bulan.

Sisanya tetap dijaga dalam bentuk dollar AS untuk keperluan pembelian bahan baku dan membayar kewajiban utang valas.

Untuk memastikan proses produksi berjalan normal,  cadangan dollar AS rata-rata dijaga untuk kebutuhan impor bahan baku selama tiga bulan .

Persoalan berikutnya, kurs beli di bank yang lebih rendah ketimbang kurs jual membuat konversi DHE ke rupiah tidak menguntungkan pengusaha.

Dus, Ade meminta BI dan perbankan di Indonesia meniru langkah yang diterapkan China. Di negeri tirai bambu itu, setiap DHE yang ditukar menjadi yuan menggunakan patokan kurs tengah.

Ini menjadi insentif dari bank sentral China agar eksportir tidak dirugikan.

Memikat investor

Seperti emerging markets yang lain, Indonesia punya kesamaan yang terlalu sering memberikan masalah untuk rupiah. Yakni, pasar keuangan dengan kepemilikan investor asing yang signifikan.

Ekonomi AS yang mulai membaik membuat The Fed mengubah kebijakannya dari pelonggaran menjadi pengetatan moneter. Secara bertahap, FFR dinaikkan hingga 2%.

Plus, spekulasi kenaikan dua kali lagi pada September dan November atau Desember tahun ini.

Eric Alexander Sugandi, ekonom ADB Institute bilang, saat ini tengah terjadi great rotation. Investor global tengah panen dari pasar keuangan emerging markets setelah banyak membenamkan investasi sejak 2008.

Idealnya, investor lokal mesti mengambil peran lebih besar di pasar keuangan. Pintu masuknya sudah terbuka cukup lebar seiring penurunan harga aset, baik obligasi maupun saham.

Namun kenyataannya, sulit berharap kondisi demikian bisa terwujud dalam waktu cepat dengan literasi keuangan yang masih rendah. Pada 2019, pemerintah menargetkan literasi keuangan bisa mencapai 35%.

Sondang Martha Samosir menyebut, tingkat literasi keuangan masyarakat memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Kata Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu, angkanya naik dari 21,8% di tahun 2013 menjadi 29,7% pada 2016.

Namun, angkanya masih rendah lantaran dari setiap 100 penduduk hanya sekitar 29 orang yang termasuk kategori well literate. Dari persebarannya, hanya 13 provinsi saja yang memiliki indeks literasi keuangan di atas rata-rata nasional.

Meski begitu, dengan tambahan pemanis, minat investor lokal untuk membenamkan lebih banyak investasi di pasar keuangan bisa didongkrak.

Penerbitan SBR004 menunjukkan, imbal hasil yang menarik dengan tenor lebih pendek bisa memancing minat pemodal ritel. Dus, strategi serupa bisa diterapkan demi menjaring lebih banyak investor lokal masuk ke pasar modal.

Inisiatif lainnya, kata Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang, bisa lewat insentif perpajakan. Pemerintah dapat memangkas PPh bunga obligasi yang saat ini di level 15%.  

Insentif perpajakan, tambah Bhima, juga bisa diberikan kepada korporasi yang menerbitkan green bond. Betul, target investornya memang bukan domestik, melainkan investor spesifik seperti dari negara-negara Skandinavia.

Tapi, investor semacam ini relatif tidak terpengaruh oleh sentimen global, seperti halnya investor konvensional.  

Nah, biar investor enggak kapok, pihak berwenang harus tegas pada emiten nakal.     

Berikutnya: Asa membangkitkan rupiah yang luruh: Rupiah tergencet, valas bank mengetat  (2)

** Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Laporan Utama Tabloid KONTAN edisi  10 September-16 September  2018. Artikel berikut data dan infografis selengkapnya silakan klik link ini: "Bauran Kebijakan demi Keamanan" 


Reporter: Tedy Gumilar, Wuwun Nafsiah
Editor: Mesti Sinaga
Video Pilihan

TERBARU
Rumah Pemilu
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 1.5564 || diagnostic_web = 15.8871

Close [X]
×