kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.333
  • EMAS679.000 -0,29%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%
FOKUS /

Asa membangkitkan rupiah yang luruh: Rupiah tergencet, valas bank mengetat (2)

Rabu, 03 Oktober 2018 / 21:15 WIB

Asa membangkitkan rupiah yang luruh: Rupiah tergencet, valas bank mengetat (2)
ILUSTRASI. Asa Membangkitkan Rupiah yang Luruh

Risiko bank BUKU 3 & 4

Dengan melihat kondisi tersebut, menurut Bhima Yudhistira Adhinegara, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), bank yang lebih terdampak di kelompok bank swasta, disusul bank BUMN, dan bank asing yang porsi kredit valas dari total penyaluran kredit cukup besar.

Namun, secara kelompok, sebagian di bank BUKU 3 dan 4 akan terkena dampak pelemahan rupiah. Sedangkan bank BUKU 1 dan BUKU 2 tidak banyak terpengaruh lantaran porsi penyaluran kredit valas terbilang kecil.

Namun, bank-bank yang menerbitkan letter of credit (L/C) juga berpotensi terdampak. Sebab, ada korelasi antara L/C dengan suplai kredit dan simpanan valas.

Itu sebabnya, bank pelat sekaliber PT Bank Mandiri Tbk (Mandiri) juga harus mengalami pengetatan likuiditas.

Menurut Darmawan Junaidi, Direktur Treasury dan International Banking Bank Mandiri, sampai Juni 2018, LDR Bank Mandiri naik tinggi, yaitu mencapai 94%.

Darmawan mengakui, ketatnya likuiditas valas di perbankan disebabkan oleh pertumbuhan DPK yang cenderung terus menurun di tengah peningkatan pertumbuhan kredit valas.

“Pelemahan rupiah yang disertai oleh arus modal asing keluar dari pasar modal domestik juga berdampak kepada likuiditas di sistem perbankan,” katanya.

Sampai 3 September 2018 lalu, terjadi arus modal asing keluar (outflow) di pasar saham yang mencapai Rp 50,9 triliun.

Di sisi lain, arus modal asing yang masuk (inflow) di obligasi pemerintah hanya sebesar Rp 17,6 triliun. Jadi, secara total terjadi nett outflow Rp 33,3 triliun dari pasar modal.

Sayangnya, Darmawan enggan membeberkan besaran DPK valas Bank Mandiri. Dia hanya menyebutkan, proporsi kredit valas Bank Mandiri hanya sebesar 17% dari total portofolio kredit perusahaan.

“Sebagian besar debitur valas kami juga memiliki bisnis yang menggunakan mata uang dollar AS (natural hedge),” imbuh dia.

Bank pelat merah lain yang mengalami pengetatan valas ialah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Secara year to date, LDR valas BNI naik dari 94,9% di Desember 2017 menjadi 98,3% di Juni 2018.

“Likuiditas valas saat ini lebih terpengaruh sentimen global, yaitu kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) dan kekhawatiran dampak perang dagang antara AS dan China,” kata Rico Rizal Budidarmo, Direktur Bisnis Tresuri dan Internasional BNI.

Bhima menimpali, pelemahan rupiah terhadap dollar AS juga sangat besar pengaruhnya terhadap likuiditas valas bank.

Jika tren rupiah tembus di atas Rp 15.000 per dollar AS, pelaku industri dan importir yang butuh bahan baku dan barang modal impor akan melakukan early purchasing atau pembelian awal, sehingga selisih kurs bisa ditekan.

“Akibatnya permintaan kredit valas naik, deposito valas ditarik untuk pembayaran impor,” katanya.

Selain pelemahan rupiah, lanjut Bhima, faktor lain yang menyebabkan likuiditas valas di perbankan mengetat adalah kebutuhan untuk pembayaran impor yang terus naik.

Sejak Januari-Juli 2018, pertumbuhan impor sudah di angka 24,4% secara yoy, jauh di atas pertumbuhan ekspor sebesar 15,6%.

Itulah yang menyebabkan permintaan kredit valas juga  ikut tumbuh. OJK mencatat, sampai Juni 2018, kredit valas perbankan mencapai Rp  751,73 triliun.

Nilai tersebut meningkat 16,45% dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp 645,50 triliun.

Pertumbuhan kredit valas didorong oleh kenaikan biaya jasa logistik, karena pelemahan kurs rupiah dan kenaikan harga minyak mentah dari awal tahun ini.

Bukan cuma itu. Struktur logistik, khususnya perkapalan, sebesar 93% kapal ekspor-impor memakai jasa kapal asing yang cukup menguras kebutuhan dollar AS di dalam negeri.

Faktor lain, simpanan valas dalam bentuk deposito yang berkaitan dengan dana repatriasi amnesti pajak mulai ditarik keluar oleh nasabah. 

“Jika dana repatriasi ditarik, jumlahnya setara Rp 147 triliun, lumayan signifikan untuk mengurangi deposito valas,” kata Bhima.

Sebagai gambaran, simpanan valas di perbankan sampai Juni 2018 tercatat hanya Rp 783,88 triliun. Angka ini juga turun 5,33% dibandingkan periode serupa di tahun 2017.


Reporter: Dikky Setiawan
Editor: Mesti Sinaga

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.0440 || diagnostic_web = 0.3049

Close [X]
×