kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,09   6,67   0.95%
  • EMAS931.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Apakah ramalan krisis finansial 2020 Roubini akan jadi kenyataaan akibat corona?


Selasa, 17 Maret 2020 / 05:05 WIB
Apakah ramalan krisis finansial 2020 Roubini akan jadi kenyataaan akibat corona?

Reporter: Abdul Basith, Benedicta Prima, Grace Olivia, Nur Qolbi, Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui risiko akibat virus corona covid-19 lebih rumit daripada krisis ekonomi global tahun 2008. Pada krisis tahun 2008, lebih besar serangan dari lembaga keuangan terutama perbankan dan pasar modal. Sedangkan saat ini serangan langsung pada sektor riil. "Karena menyangkut masalah orang yang tidak berani melakukan mobilitas, tidak melalukan kegiatan, itu pengaruhi sektor riil, investasi, manufacturing," ujar Sri Mulyani, Kamis (5/3).

Menkeu menyebut, aktivitas industri tertunda karena adanya disrupsi rantai pasok. Hal itu dapat menciptakan kondisi terjadinya pengangguran. Beberapa sektor seperti pariwisata, maskapai penerbangan, hotel dan manufaktur terganggu. Selain itu ada pula kekhawatiran akan mengenai sektor keuangan akibat Covid-19 ini.

Penyebaran virus corona yang telah menjadi pandemi ini akan memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Pelebaran defisit anggaran sebagai dampak dari prospek tertekannya penerimaan negara di tengah perlambatan ekonomi, serta dampak stimulus fiskal yang dikucurkan pemerintah untuk meredam dampak wabah virus corona (Covid-19) terhadap perekonomian.

Baca Juga: Dampak wabah virus corona, 65 perguruan tinggi terapkan kebijakan kuliah jarak jauh

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengestimasi, tambahan defisit anggaran akan mencapai 0,8% terhadap produk domestik bruto (PDB) atau setara dengan Rp 125 triliun. Dengan begitu, defisit APBN 2020 akan melebar dari asumsi awalnya 1,76% dari PDB atau Rp 307,2 triliun, menjadi 2,5% dari PDB atau mencapai  Rp 432,2 triliun.

“Ini karena belanja tidak kita rem, sedangkan penerimaan akan mengalami penurunan. Jadi itu adalah kebijakan by design yang kita lakukan yaitu relaksasi defisit yang menjadi lebih besar,”  tutur Sri Mulyani, Jumat (13/3).

Bendahara negara itu menjelaskan, pelebaran defisit anggaran merupakan bagian dari respon pemerintah untuk menopang perekonomian yang terdampak oleh adanya wabah Covid-19. Sejauh ini, pemerintah telah mengeluarkan dua paket kebijakan stimulus ekonomi untuk penanganan corona dengan besaran stimulus masing-masing Rp 10,3 triliun dan Rp 22,9 triliun.

Baca Juga: Jokowi: Saat ini tidak ada arah kebijakan lockdown

Paket stimulus pertama, kata Sri Mulyani, difokuskan untuk meredam risiko pada sektor pariwisata yaitu hotel, restoran, dan kawasan wisata di daerah-daerah. Sementara paket stimulus yang kedua merupakan respon pemerintah terhadap risiko yang kini mulai merembet ke sektor produksi akibat adanya disrupsi arus barang dan pasokan bahan baku secara global.

“Dampak tidak mungkin bisa kita hilangkan, tetap bisa kita minimalkan. Baik dampak terhadap permintaan yaitu konsumsi masyarakat dan investasi, maupun dampak pada suplai atau produksi yaitu sektor industri dan usaha. Jadi pemerintah selalu melihat dari dua sisi ini,” tandas Sri Mulyani.




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×