kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,09   6,67   0.95%
  • EMAS931.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Apakah ramalan krisis finansial 2020 Roubini akan jadi kenyataaan akibat corona?


Selasa, 17 Maret 2020 / 05:05 WIB
Apakah ramalan krisis finansial 2020 Roubini akan jadi kenyataaan akibat corona?

Reporter: Abdul Basith, Benedicta Prima, Grace Olivia, Nur Qolbi, Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dua tahun lalu, Dr. Doom Nouriel Roubini meramal adanya krisis finansial di tahun 2020. Padahal, waktu itu virus corona belum ada dan merajalela seperti sekarang.

Dalam kicauan Twitter pada Minggu (8/3) dan Senin (9/3), Roubini memperingatkan bahwa kombinasi virus corona dan perang harga minyak akan menyebabkan badai risiko yang sempurna dan menjadi sinyal jelas resesi global. Roubini memperingatkan resesi global yang mendekat dan menjabarkan langkah-langkah yang bisa diambil otoritas untuk membatasi kejatuhan ekonomi akibat virus corona.

Roubini mengatakan, pekan lalu dimulai dengan penurunan pasar saham Amerika Serikat (AS) dan global, spread kredit melebar, terutama untuk pasar dengan yield tinggi dan pasar surat utang tertekan. Imbal hasil US Treasury 10 tahun bahkan turun lebih rendah dan harga minyak turun tajam. "Badai risiko yang sempurna dan sinyal sebenarnya dari resesi global yang akan datang!" kicau profesor Stern School of Business Universitas New York seperti dikutip Business Insider.

Baca Juga: Nouriel Roubini: Krisis finansial selanjutnya tahun 2020, ini 10 pemicunya

Pada Senin (9/3), Dow Jones Industrial Average merosot 7,78% dan indeks S&P 500 turun 7,60%. Harga minyak merosot sekitar 25% dan imbal hasil US Treasury merosot ke 0,54%. Penurunan pasar saham pun masih terjadi hingga awal pekan ini.

Dalam wawancara dengan Der Spiegel sebelum aksi jual pasar pekan lalu, Roubini mengatakan bahwa investor benar-benar tidak mengerti akan kejatuhan ekonomi akibat virus corona. Awal pekan ini, dia menggarisbawahi tingkat keparahan ancaman virus corona setelah total infeksi di lebih dari 100 negara melewati 110.000 dan kematian mencapai 3.800.

"Dalam beberapa hari ke depan, berita utama adalah pandemi yang menyebar ke AS dan Uni Eropa," kata dia. Ini akan memicu kejatuhan makin dalam aset berisiko seperti saham, obligasi, minyak, serta kenaikan harga emas dan harga obligasi yang aman.

Baca Juga: Wall Street ambrol hampir 12% setelah The Fed menggunting suku bunga

Dia pun memprediksi krisis kredit yang brutal di tahun ini. Dia mengacu dampak besar virus corona, terbatasnya kemampuan kebijakan moneter dan fiskal untuk mengatasi pekerja yang sakit dan konsumen yang tetap tinggal di rumah serta tumpukan utang obligasi yang meningkat.

Roubini memperkirakan, krisis kredit 2020 akan lebih parah daripada 2016 dan 2019 karena tidak hanya energi, tapi juga sektor lain. "Guncangan ekonomi akibat Covid-19 lebih nyata daripada yang ditakuti, respons kebijakan lebih terbatas, juga memukul UKM dan pekerja, lebih banyak utang global. Resesi/krisis di depan mata!" kata Roubini.

Roubini menyarankan beberapa cara untuk mengurangi kerusakan ekonomi akibat virus corona. Dia merekomendasikan agar pihak berwenang menyediakan kredit untuk usaha kecil dan menengah serta rumah tangga.

Baca Juga: Ramalan-ramalan tentang kemungkinan resesi global akan terjadi di 2020

Dia juga menyarankan para pejabat untuk menggunakan tunjangan, subsidi, dan pemotongan pajak agar konsumen, terutama dengan pendapatan menengah ke bawah memiliki uang. Dia mengatakan bahwa virus corona terus menghantam permintaan konsumen dan mengganggu bisnis dan rantai pasok. Warga miskin memiliki risiko lebih besar kehilangan pekerjaan dan kehabisan uang.

Selain itu, Roubini menyerukan agar Federal Reserve mengucurkan miliaran dolar ke ekonomi AS untuk meningkatkan likuiditas dan menopang harga aset finansial.

"Terlepas dari kebijakan kesehatan yang tepat, respons makro yang tepat adalah pemberian kredit untuk UKM dan rumah tangga yang terkena dampak dan tidak likuid, subsidi langsung atau pemangkasan pajak bagi warga menengah ke bawah yang kehilangan pekerjaan atau pendapatan, serta pelonggaran moneter untuk menghentikan ambruknya pasar finansial," kata dia.




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×