kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45981,35   -8,58   -0.87%
  • EMAS1.142.000 0,35%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%
FOKUS /

Antiklimaks Perjalanan Panjang Persiapan Piala Dunia U-20 2023 di Indonesia


Senin, 03 April 2023 / 08:24 WIB
Antiklimaks Perjalanan Panjang Persiapan Piala Dunia U-20 2023 di Indonesia
ILUSTRASI. Pupus sudah mimpi Indonesia menjadi tuan rumah turnamen sepakbola internasional, Piala Dunia U20


Reporter: Handoyo, kompas.com | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pupus sudah mimpi Indonesia menjadi tuan rumah turnamen sepakbola internasional, Piala Dunia U20. Hal ini dikarenakan federasi sepakbola internasional (FIFA) resmi mengumumkan pembatalan Indonesia sebagai Tuan Rumah Piala Dunia U-20 yang rencananya diselenggarakan tahun ini. 

Mengutip laman resmi FIFA, pernyataan pembatalan tersebut diunggah setelah Presiden FIFA Gianni Infantino melakukan pertemuan dengan Ketua Umum PSSI Erick Thohir, Rabu (29/3). Walhasil, jalan panjang Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 pada akhirnya antiklimaks.

Tidak disebutkan alasan pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah. Namun, masalah penolakan terhadap delegasi Israel dalam turnamen internasional ini digadang-gadang menjadi alasan fifa mengambil keputusan drastis tersebut.

Uniknya ini adalah pertama kalinya Israel lolos Piala Dunia U-20. Keberuntungan Israel sebaliknya menjadi nasib apes bagi Indonesia. Indonesia yang memiliki hak istimewa untuk lolos Piala Dunia U20 meski tanpa melalui kualifikasi otomatis tersingkir.

Baca Juga: Kepada Pemain Timnas U-20, Jokowi: Jangan Patah Semangat

Awalnya penolakan tampak landai karena hanya disuarakan PKS dan beberapa ormas. Namun, isu ini membesar justru setelah disuarakan oleh dua Gubernur yang lokasinya ditunjuk sebagai tuan rumah, yaitu I Wayan Koster (Bali) dan Ganjar Pranowo (Jateng), yang sama-sama berasal dari partai penyokong pemerintah, yaitu PDIP.

Kini, mimpi gegap gempita event terbesar kedua FIFA yang sudah di depan mata menjadi sirna. Para pemain, staf kepelatihan, pemerintah pusat, suporter hingga pelaku ekonomi yang berkaitan dengan gelaran ini akhirnya harus gigit jari. 

Merespon persoalan sepak bola dan polemik Piala Dunia U-20, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku pusing. Jokowi bercerita telah berjuang semaksimal mungkin untuk memperebutkan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. 

"Yang urusan bola ini memang pusing saya dua minggu ini gara-gara bola, pusing bener. Karena apa pun itu sulitnya sangat sulit sekali jadi tuan rumah itu," kata Jokowi.

Selain perbaikan infrastruktur maupun fasilitas pendukung yang sudah dilakukan selama tiga tahun terakhir. Jokowi juga menyinggung soal komitmen semua pihak, mulai dari presiden hingga Gubernur dan Wali Kota. 

"Dan saat kita menandatangani guarantee country host (jaminan negara tuan rumah), ya kan, di situ sudah tercantum semuanya apapun yang kita harus kita komitmenkan dan kita tanda tangan," ungkap Jokowi. 

"Kemudian juga provinsi maupun kota yang ditunjuk itu juga ada tanda tangannya, city host commitment ada semuanya, tanda tangan-tanda tangan," bebernya. 

Baca Juga: Potensi Cuan Menguap, Indonesia Keok Duluan Sebelum Berlaga di Piala Dunia U-20

Sebelumnya, Jokowi menegaskan bahwa keikutsertaan tim nasional (timnas) Israel dalam ajang olahraga tersebut tidak ada kaitannya dengan konsistensi posisi politik luar negeri Indonesia terhadap Palestina.

Asal tahu saja, tidak sedikit anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk mensukseskan perhelatan ini. Apabila mengkalkulasi kerugian dari sisi pengeluaran APBN, nilainya sangat fantastis. Biaya terbesar dialokasikan untuk renovasi sejumlah stadion oleh Kementerian PUPR.

Belum lagi, dana yang dihabiskan untuk serangkaian kegiatan persiapan dari Kemenpora. PSSI juga mengeluarkan uang tak sedikit untuk persiapan timnas Indonesia berlaga di Piala Dunia U-20.

"Total kita sedang mengkaji dan sudah keluar hasil kajian awal di mana venue-venue tersebut sudah direnovasi beberapa tahun terakhir, oleh PUPR Kemenpora ini jumlahnya sudah di atas Rp 500 miliar lebih," ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno.

Selain kerugian dari biaya APBN yang sudah terlanjur digelontorkan, Indonesia juga dirugikan karena kehilangan momentum dari potensi pergerakan ekonomi jika menghelat event sebesar Piala Dunia U-20.

Sandiaga mencontohkan, dengan menjadi tuan rumah, Indonesia akan kedatangan tambahan turis asing yang berasal dari pemain, official tim, dan pendukung masing-masing negara. Gelaran Piala Dunia U-20 tetaplah merupakan event besar, meski tentu skalanya tak sebesar Piala Dunia Timnas Senior di Qatar tahun lalu.

"Total lebih dari 2 juta penonton 2,3 juta penonton dan minimal dampaknya itu mencapai Rp 3,7 triliun. Dan ini kerugian yang sangat besar," ujar Sandiaga.

Pasca pencoretan Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia U20, Presiden langsung menginstruksikan kepada Erick Thohir dua hal. Pertama, meminta PSSI untuk membuat peta biru (blueprint) transformasi sepak bola Indonesia.

Kedua, Presiden menginstruksikan kepada Erick untuk segera kembali membuka pembicaraan kepada FIFA untuk kita tetap menjadi bagian keluarga besar FIFA. Erick menangkap maksud Presiden Jokowi agar sepak bola Indonesia tidak terkucilkan.

Baca Juga: Presiden Jokowi Kecewa Indonesia Batal Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20 2023

Merespon kegagalan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U20, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Hasto Kristiyanto mengaku partainya menyayangkan dan bersedih karena FIFA membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. PDI-P, ucap Hasto, tidak pernah menolak penyelenggaraan Piala Dunia U-20 di Indonesia.

"Apa yang kami sampaikan adalah hal yang fundamental guna menyuarakan kemanusiaan dalam hubungan antarbangsa dengan menolak kehadiran Israel serta potensi kerentanan sosial dan politik yang akan ditimbulkan oleh kehadiran Timnas Israel," kata Hasto dalam keterangannya, Kamis (30/3).

Hasto mengatakan, sikap yang diambil PDI-P itu bukan tiba-tiba. PDI-P memiliki landasan kuat menolak kehadiran Timnas Israel di Piala Dunia jika digelar di Indonesia. Landasan kuat itu bahkan disebut merujuk konstitusi dan juga sejarah.

"Suara menolak kehadiran Israel adalah suara kemanusiaan, bukan kehendak politis. Kesadaran sejarah juga harus terus diperkuat," tutur dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×