kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45933,01   -11,21   -1.19%
  • EMAS1.003.000 0,40%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%
FOKUS /

Ancaman Resesi Kian Nyata, Bersiap Kencangkan Sabuk Pengaman


Senin, 17 Oktober 2022 / 10:03 WIB
Ancaman Resesi Kian Nyata, Bersiap Kencangkan Sabuk Pengaman
ILUSTRASI. Ancaman resesi ekonomi global semakin menghantui berbagai negara di dunia.


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie, Bidara Pink, Herlina KD, Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ancaman resesi ekonomi global semakin menghantui berbagai negara di dunia. Berbagai lembaga internasional bahkan telah memberi peringatan akan ancaman resesi global dan memangkas pertumbuhan ekonomi.

 

Dana Moneter Internasional (IMF) misalnya, yang memangkas pertumbuhan ekonomi tahun 2023 dari 2,9% menjadi hanya 2,7%. 

Dalam laporannya yang berjudul World Economic Outlook (WEO) Countering the Cost-of-Living Crisis Edisi Oktober 2022 yang dirilis pada Selasa (11/10), IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun depan menunjukkan profil pertumbuhan terlemah sejak 2001, kecuali pada masa krisis keuangan global dan fase akut pandemi Covid-19.  

Baca Juga: Neraca Dagang Tahun Depan Terancam Defisit

"Lebih dari sepertiga ekonomi global akan terkontraksi tahun ini atau tahun depan, sementara tiga ekonomi terbesar Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan China akan terus terhenti. Yang terburuk di 2023, akan banyak negara terasa seperti resesi," tulis IMF dalam laporan, Rabu (12/10). 

IMF juga meyakini ada 25% kemungkinan pertumbuhan ekonomi global di 2023 akan turun ke bawah 2%. Perkiraan tersebut bisa terjadi akibat tekanan geopolitik Rusia dan Ukraina terus memanas, inflasi melonjak, dan ekonomi China terus melambat, hingga gangguan rantai pasok akibat pandemi Covid-19. 

Asal tahu saja, pertumbuhan ekonomi global di bawah 2% sempat terjadi lima kali, yakni pada tahun 1973, 1981, 1982, 2009, dan 2020.

Presiden Bank Dunia David Malpass dan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperingatkan tentang meningkatnya risiko resesi global. Mereka juga mengatakan inflasi tetap menjadi masalah yang berkelanjutan setelah invasi Rusia ke Ukraina. 
"Ada risiko dan bahaya nyata dari resesi dunia tahun depan," kata Malpass dalam dialog dengan Georgieva pada awal pertemuan langsung pertama kedua lembaga sejak pandemi COVID-19 seperti dikutip Reuters, Senin (10/10).

Dia mengingatkan perlambatan pertumbuhan di negara maju dan depresiasi mata uang di banyak negara berkembang, serta kekhawatiran inflasi yang sedang berlangsung bisa memicu resesi global.

Tanda-tanda resesi yang semakin nyata kini mulai dirasakan di beberapa negara maju. Salah satunya di China. Ekonomi terbesar kedua di dunia itu tengah bergulat dengan dampak kekeringan yang parah. Sektor real estate juga diliputi masalah penumpukan utang yang menggunung.

Kebijakan China yang melakukan kebijakan penguncian untuk memerangi Covid-19 atau yang dikenal dengan kebijakan nol Covid memperparah keadaan. Sejak akhir Agustus lalu, setidaknya ada 74 kota mengalami penguncian.

Menurut perhitungan CNN, berdasarkan data statistik pemerintah, kondisi penguncian di China mempengaruhi lebih dari 313 juta penduduk.

Baca Juga: Hantu Resesi Ancam Kinerja Perdagangan RI Tahun 2023

Goldman Sachs pekan lalu memperkirakan bahwa kota-kota yang terkena dampak penguncian menyumbang 35% dari produk domestik bruto (PDB) China.

Pembatasan terbaru menunjukkan sikap tanpa kompromi China untuk membasmi virus dengan langkah-langkah kontrol yang paling ketat, meskipun ada dampak besar dari kebijakan tersebut.

Indonesia Bisa Terkena Imbas

Ancaman resesi di berbagai negara tentu akan berdampak pada Indonesia.  Apalagi, sejumlah mitra dagang utama Indonesia adalah negara-negara maju, termasuk China dan Amerika.

Jika China masuk ke jurang resesi, maka efeknya juga akan dirasakan Indonesia dari berbagai sisi. Utamanya dari sisi perdagangan yakni ekspor impor dan investasi.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi China di Indonesia pada kuartal II-2022 mencapai US$ 2,2 miliar.

Sejak 2019 sampai semester I 2022 Foreign Direct Investment  (FDI) dari China berjumlah US$ 16,2 miliar, terbesar kedua setelah Singapura. 

Defisit neraca perdangangan RI dengan China mengecil dari US$ 18,4 miliar di 2018 menjadi US$ 2,4 miliar tahun 2021.

Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Indra Darmawan menilai perlambatan ekonomi China sudah pasti berpengaruh terhadap perekonomian global. Pasalnya, ekonomi di negara ini adalah yang terbesar kedua di dunia dan merupakan mitra dagang penting bagi puluhan negara di dunia.

“Perlambatan tersebut utamanya berasal dari penanganan Covid-19 yang ketat dan permasalahan di bidang properti. Permintaan dari China akan melambat dan berpengaruh terhadap ekspor ke China dari negara-negara mitra dagangnya,” kata Indra.

Baca Juga: IMF: Otoritas Jangan Salah Langkah, Ekonomi Bisa Hanya Tumbuh 2% di 2023

Untuk saat ini, Indra bilang masih terlalu dini untuk menilai efek perlambatan ekonomi China ke Indonesia. Meski begitu, Indra mengatakan BKPM akan terus waspada. 

Menurutnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2023 masih dalam batas aman yakni 5,3%.

Sementara dari sisi investasi, selain mencari pasar dan peluang baru, penting juga  untuk membuka dan melayani investasi baru dari negara lain yang akan masuk ke Indonesia.

Lantaran terimbas dari potensi resesi global, ekonomi Indonesia pun diperkirakan ikut melambat. Bahkan, IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,2% menjadi hanya 5%.

Dalam laporan IMF yang berjudul World Economic Outlook (WEO) Countering the Cost-of-Living Crisis Edisi Oktober 2022 yang dirilis pada Selasa (11/10), IMF tidak menyebut alasan spesifik terkait pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Hanya saja, IMF menyebut secara global perekonomian menghadapi sejumlah tantangan. Yang ditandai dengan tingginya inflasi, pengetatan kondisi keuangan di sebagian besar wilayah, invasi Rusia ke Ukraina dan pendemi Covid-19 yang berkepanjangan turut membebani ekonomi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM) Supply Chain Management Principles (SCMP)

[X]
×