: WIB    --   
indikator  I  

Venezuela, gambaran kolapsnya sebuah negara kaya

Venezuela, gambaran kolapsnya sebuah negara kaya

CARACAS. Kondisi perekonomian Venezuela semakin mengkhawatirkan. Saat ini, negara tersebut kehabisan cadangan bahan pangan. Rumah sakit banyak dipenuhi oleh anak-anak yang sakit. Sementara, dokter tidak memiliki ketersediaan obat dan mesin X-ray. Bahkan listrik pun tidak tersedia.

Yang dimiliki Venezuela saat ini hanyalah segunung permasalahan.

Perekonomian Venezuela memburuk dan menuju kolaps. Krisis kemanusiaan pun terjadi, di mana banyak warga Venezuela yang sakit keras tidak bisa mendapatkan obat-obatan. Selain itu, terjadi bencana kelaparan.

Kondisi ini diperburuk dengan krisis politik.  Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah mengimbau untuk dilakukannya referendum pada Minggu mendatang. Hal ini mendapatkan kritikan keras dari pihak penentang sang presiden yang berpendapat hal itu tak sesuai dengan demokrasi.

Dengan adanya referendum, hal itu akan memungkinkan Maduro untuk merevisi undang-undang dan menggantikan Mahkamah Nasional, yang dikontrol oleh pihak oposisi, dengan anggota badan legislatif yang baru yang menjadi kaki tangannya.

Padahal, Venezuela sebelumnya merupakan negara kaya raya di Amerika Latin. Bagaimana awal cerita kejatuhan ekonomi Venezuela?

- Negara produsen minyak

Venezuela merupakan suplier minyak terbesar dunia. Sehingga tak jarang hal ini dilihat sebagai mesin pencetak uang bagi Venezuela yang tidak ada habisnya. Tapi saat ini, pemerintah Venezuela kehabisan uang, harga barang-barang meroket, dan tidak ada yang tahu seberapa buruk lagi kondisi yang akan terjadi pada ekonomi Venezuela.

Selain itu, Venezuela juga merupakan pembangkit tenaga listrik di Amerika Selatan pada 1990-an. Mantan Presiden Bill Clinton menjadikannya pemberhentian pertama dalam perjalanan ke wilayah tersebut pada tahun 1997.

Namun, ketidakadilan ekonomi kian mencolok. Kelas masyarakat elit yang jumlahnya sedikit, mengontrol hampir semua bisnis. Di sisi lain, tingkat kemiskinan kian meningkat.

Negara ini kemudian beralih ke paham sosialisme pada 1999 dan memilih Presiden Hugo Chavez. Dia memperjuangkan populisme, memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat dan bergabung dengan China dan Rusia. Kedua negara inilah yang meminjamkan dana miliaran dollar kepada Venezuela.

Chavez memerintah sampai kematiannya pada 2013, dan hingga hari ini masih dikenal sebagai pahlawan bagi orang miskin.

Sayangnya, pemerintahan Chavez banyak mengucurkan dana pada program kesejahteraan dan mematok harga tetap untuk segalanya. Chavez juga mendeklarasikan lahan pertanian sebagai milik negara dan kemudian mengabaikannya. Sebaliknya, Chavez membuat negara tersebut sangat bergantung pada penjualan minyak ke luar negeri.

Sebelum dia meninggal, Chavez memilih Maduro untuk menggantikannya, dan Maduro terus menjalankan praktik rezim Chavez. Pemerintahan Maduro menghentikan penerbitan statistik yang bisa diandalkan, termasuk data pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Ia menerima suap senilai jutaan dollar untuk proyek konstruksi dan masih berupaya keras membayar utang yang masih perlu dibayar.

Sementara itu, satu-satunya komoditas yang dimiliki Venezuela mulai merosot nilainya.

Pada 2014, harga minyak berada di kisaran US$ 100 per barel. Kemudian beberapa negara mulai memproduksi terlalu banyak minyak karena minyak yang tidak dapat diakses sebelumnya dapat dikeruk dengan teknologi pengeboran baru. Pada saat yang sama, bisnis di dunia tidak membeli bensin lagi. Terlalu banyak cadangan minyak menyebabkan harga global turun menjadi US$ 26 pada 2016.

Saat ini, harga minyak berada di kisaran US$ 50, yang berarti pendapatan Venezuela terpangkas setengahnya.

Dengan rendahnya harga minyak dan arus kas pemerintah yang semakin berkurang, pengendalian harga menjadi masalah besar. Venezuela masih mensubsidi makanan jauh di bawah harga normal untuk menenangkan masyarakat miskin. Maduro mencetak uang dengan kecepatan tinggi, sehingga nilai tukar bolivar melorot tajam.

Pada saat bersamaan, permusuhan Maduro terhadap pelaku bisnis asing menciptakan eksodus. Pepsi (PEP), General Motors (GM) dan United (UAL) merupakan beberapa beberapa perusahaan yang telah mengurangi bisnisnya, bahkan meninggalkan seluruh bisnisnya di negara tersebut. IMF memprediksi, tingkat pengangguran di Venezuela tahun ini bisa mencapai 25%.

Di sisi lain, tingkat inflasi semakin memburuk. Pada tahun 2010, satu dolar Amerika bernilai sekitar delapan bolivar. Berdasarkan nilai tukar tidak resmi yang banyak digunakan warga Venezuela, saat ini nilainya lebih dari 8.000 bolivar. Tingkat harga barang bisa naik 2.000% secara mengejutkan tahun depan.

Untuk mengikuti pergerakan inflasi, Maduro telah menaikkan upah minimum sebanyak tiga kali tahun ini. Kebijakan itu cukup memberikan sedikit bantuan jangka pendek kepada warga miskin. Namun para pengamat mengatakan bahwa hal itu menciptakan rasa sakit jangka panjang dalam bentuk mata uang yang semakin tidak berharga.

"Perekonomian benar-benar kacau, benar-benar ambruk, tidak ada titik untuk kembali," kata Alberto Ramos, seorang ekonom yang memimpin riset Amerika Latin di Goldman Sachs.

Maduro menyalahkan lawan-lawannya atas kesengsaraan ekonomi Venezuela dan mengatakan sanksi Amerika Serikat terhadap para pemimpin Venezuela adalah bukti bahwa AS sedang melakukan "perang ekonomi".


SUMBER : money.cnn
Editor Barratut Taqiyyah Rafie

VENEZUELA

Feedback   ↑ x
Close [X]