| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.073
  • SUN98,24 0,00%
  • EMAS606.004 0,84%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%
FOKUS /

Transaksi tunai di atas Rp 100 juta akan dilarang (2): Yang gede siap, yang kecil?

Selasa, 05 Juni 2018 / 19:07 WIB

Transaksi tunai di atas Rp 100 juta akan dilarang (2): Yang gede siap, yang kecil?
ILUSTRASI. Kampanye Non Tunai
Berita Terkait

Jangan turun lagi

Maka itu, Danang meminta batas maksimal transaksi tunai Rp 100 juta sudah final, jangan diturunkan lagi. Menurutnya, batasan itu telah sesuai dengan standar internasional yang berlaku di banyak negara.

Kalangan pengusaha cukup terganggu dengan usulan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang meminta batas transaksi tunai dipangkas menjadi hanya Rp 25 juta.

Bila usulan ini ketok palu dalam pembahasan RUU PTUK, jelas berdampak ke sektor bisnis secara luas. “Karena itu tadi, banyak supplier informal yang menggunakan transaksi tunai hingga Rp 50 jutaan,” ujar dia.

Wibisono, Investor Relation PT Agung Podomoro Land Tbk    berpendapat sama. Pembatasan transaksi tunai tidak akan mengganggu kegiatan jual beli di sektor properti.

Pasalnya, seluruh transaksi konsumen dengan pengembang sudah nontunai. “Fenomena ini sudah berlangsung lama, ya, jadi tidak ada masalah,” katanya.

Saat ini, sudah tidak ada konsumen yang menenteng koper berisi uang dalam jumlah ratusan juta rupiah untuk membayar properti yang mereka beli. Kalau pun ada yang membeli secara tunai, pembayarannya melalui transfer via bank.

Memang, sih, masih ada beberapa konsumen yang membawa uang tunai, tapi dalam jumlah sedikit. Misalnya, untuk keperluan membayar uang muka (DP) properti yang mereka beli. “Jumlahnya jauh di bawah Rp 100 juta, tapi itu pun sangat jarang, ya,” kata Wibisono.

Buat pengembang, transaksi nontunai lebih menguntungkan. Soalnya, perusahaan properti tidak perlu lagi menghitung uang pembelian dari konsumen. Pengembang juga lebih merasa aman menerima uang dalam bentuk nontunai. “Transaksi tercatat jelas, tak ada yang kurang-kurang,” bebernya.  

Segendang sepenarian, Sutanto Tan, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia (AP3MI), bilang, pelaku usaha yang tergabung dalam AP3MI sudah lama melakukan transaksi bisnis secara nontunai.

Selain lebih aman, metode ini jadi pilihan karena membuat catatan pemasukan dan pengeluaran lebih transparan serta bisa dipertanggungjawabkan. “Kami sudah nontunai, sudah pakai giro. Sekarang juga sudah sistem online, transfer langsung ke rekening,” ujar dia.

Transaksi nontunai, Sutanto menambahkan, sekarang sudah menjadi tren di kalangan pengusaha, seiring terus berkembangnya infrastruktur perbankan yang banyak menawarkan kemudahan dalam bertransaksi.

“Ini tren di pasar modern yang bisa ditiru di pasar tradisional. Kami belajar dari perkembangan teknologi, sekarang sudah cashless di supermarket di luar negeri, orang tidak bayar tunai tetapi scan barcode bahkan hanya scan kartu identitas saja,” ungkap Sutanto.


Reporter: Havid Vebri, Lamgiat Siringoringo, Merlinda Riska
Editor: Mesti Sinaga

PEMBATASAN TRANSAKSI TUNAI

Komentar
TERBARU

KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0386 || diagnostic_web = 0.1908

Close [X]
×