: WIB    --   
indikator  I  

The Fed kerek suku bunga, perlukah kita cemas?

The Fed kerek suku bunga, perlukah kita cemas?

BI rate tetap?

Pada hari ini, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) juga akan memutuskan besaran suku bunga acuan atau yang disebut BI 7-day repo rate.

Menurut Bahana Sekuritas, BI belum perlu merespon kenaikan suku bunga The Fed dengan serta merta menaikkan suku bunga acuan di dalam negeri. Pasalnya, inflasi di dalam negeri diperkirakan masih akan berada dalam target BI antara 3%-5% untuk sepanjang tahun ini, meski pemerintah masih melanjutkan rencana kenaikan tarif listrik.

"Kenaikan suku bunga The Fed kali ini tidak akan terlalu membahayakan pasar dan perekonomian negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Arus modal ke pasar obligasi diperkirakan masih akan mengalir seiring dengan ekspektasi adanya kemungkinan S&P menaikkan rating Indonesia dalam waktu dekat," terang ekonom Bahana Fakhrul Fulvian dalam riset yang dirilis kemarin.

Menurut Fakhrul, fundamental Indonesia yang masih memperlihatkan pemulihan akan menjadi pertimbangan utama bank sentral dalam mempertahankan suku bunga di level 4,75% pada bulan ini. Hal itu terlihat dari stabilnya nilai tukar, perbaikan neraca perdagangan serta perekonomian yang diperkirakan belum akan tumbuh signifikan pada kuartal pertama ini.

"Apalagi hingga akhir tahun lalu kredit perbankan masih tumbuh 7,9% secara tahunan. Tahun ini perbankan menargetkan kredit akan tumbuh sekitar 10%-12%," jelas Fakhrul.

Aktifnya perbankan dalam menyalurkan kredit, tentu akan mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menurut BI masih bisa bertumbuh antara 5% - 5,4% untuk sepanjang tahun ini. Estimasi ini sesuai dengan perkiraan Bahana yang sebelumnya sudah memperkirakan ekonomi akan tumbuh sebesar 5,4% pada 2017.

Sedangkan ekonom DBS Bank yang berbasis di Singapura, Gundy Cahyadi, dalam laporannya menulis kebijakan The Fed pada bulan ini dan indikasi atas kenaikan suku bunga The Fed dalam dua tahun ke depan, akan mendorong BI untuk memulai proses normalisasi dengan hanya menaikkan 7 days reverse repo rate sebesar 25 basis poin pada kuartal III.

"BI akan lebih agresif jika inflasi naik lebih cepat dari prediksi atau rupiah melemah melampaui ekspektasi," tulis Gundy.

Gundy menambahkan, bank sentral akan berupaya menenangkan market dengan menekankan mereka akan melakukan intervensi dalam menghadapi volatilitas mata uang.


Reporter Adinda Ade Mustami, Barratut Taqiyyah Rafie, Ghina Ghaliya Quddus, Ramadhani Prihatini
Editor Barratut Taqiyyah

MAKROEKONOMI

Feedback   ↑ x