: WIB    —   
indikator  I  

The Fed kerek suku bunga, perlukah kita cemas?

The Fed kerek suku bunga, perlukah kita cemas?

Sudah siapkah Indonesia?

Kenaikan suku bunga AS memang berdampak besar bagi sejumlah emerging market, tak terkecuali Indonesia. Pasalnya, kebijakan itu dapat mendorong hengkangnya arus modal asing di mana investor mengalihkan portofolio investasi mereka ke AS dan negara maju lainnya. Hasilnya bisa ditebak. Terjadi volatilitas pada nilai tukar mata uang.

Catatan saja, berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, rupiah sudah terdepresiasi sebesar 0,6% sejak awal Februari lalu. Sedangkan berdasarkan data RTI, posisi nilai penjualan bersih asing per Senin, 14 Maret 2017, senilai Rp 270,4 miliar (year to date).

Bank Indonesia (BI) sejauh ini sudah menahan suku bunga acuan di level 4,75% sejak November 2016. Kendati demikian, BI menyadari ruang untuk pelonggaran kebijakan mulai terbatas.

Kendati begitu, BI menegaskan pihaknya sudah bersiap diri menghadapi kenaikan suku bunga The Fed ini. Gubernur BI Agus Martowardojo bilang, untuk menjaga nilai tukar rupiah mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia, BI tidak akan ragu melakukan intervensi pasar. "Bukan mencapai satu nilai tukar tertentu tetapi volatilitas yang mesti dijaga," katanya, Senin (6/3).

Terkait rupiah, BI akan menggunakan dua intervensi, yaitu pasar rupiah dan menggunakan SBN Kalau diperlukan (buyback di pasar SBN). Namun dia yakin sektor keuangan masih baik, sebab pelaku pasar sudah priced in dengan mengantisipasi rencana kenaikan suku bunga AS di Maret ini.

Kinerja makro ekonomi dan stabilitas sistem keuangan Indonesia juga membuat dampak kenaikan suku bunga The Fed tidak besar. Stabilitas ekonomi ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca pembayaran, defisit transaksi berjalan yang terjaga. Agus yakin, risiko capital reversal atau pelarian modal tidak akan terjadi.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengklaim investor Amerika masih tetap berpandangan positif terhadap Indonesia.

Menurut Sri Mulyani, para bondholder melihat pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu yang mencapai 5,02% termasuk capaian tertinggi dibandingkan negara-negara lainnya. Namun, para bondholder juga menanyakan apakah kebijakan monter Indonesia tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

"Karena itu para bondholder sebetulnya melihat kinerja perekonomian Indonesia, apakah dari pertumbuhan, dari angka desifit APBN, dari neraca pembayaran, defisit transaksi berjalan, dari capital inflow yang berasal dari FDI kemudian maupun dari non FDI, mereka cukup comfortable," kata Sri Mulyani, Selasa (14/3).

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menegaskan tidak khawatir apabila suku bunga bank AS diputuskan naik pada Maret ini. Meski demikian, dia mengakui, kebijakan itu akan berdampak ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Pasti ada lah dampaknya, tapi ya tidak besar. Selama ini semua perekonomian itu sudah mengantisipasi bahwa itu akan terjadi dan sudah di-price in (disesuaikan) itu istilah ekonominya. Ada ya naik beberapa hari, seminggu, habis itu ya tenang lagi,” ujar Darmin kepada KONTAN, awal Maret lalu.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede bilang, kenaikan suku bunga Fed akan berdampak pada emerging market termasuk rupiah dan pasar keuangan Indonesia. Walau kondisi fundamental ekonomi Indonesia makin kuat, antisipasi perlu disiapkan pemerintah dan BI.

Joshua menyarankan, agar pemerintah fokus pada penguatan cadangan devisa dan protokol penanganan krisis di pasar keuangan. Dengan langkah itu, rupiah diperkirakan akan cenderung stabil walau ada kenaikan suku bunga AS.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan juga yakin, investor masih berminat menanamkan uangnya di Indonesia sehingga aliran modal asing tetap masuk. Hitungan Anton, jika suku bunga AS naik hingga 150 basis points (bps) sepanjang tahun ini, masih ada selisih 3,25% dari suku bunga BI 7-day reverse repo rate. Imbal hasil (yield) yang ditawarkan pemerintah juga masih menarik sekitar 7%-8%, lebih tinggi dibanding US Treasury bertenor 10% yang hanya 2%.

Anton memperkirakan, nilai tukar rupiah bisa ditahan di level Rp 13.400 per dollar AS. "Kecuali kalau The Fed naik sampai 2% (empat kali) dan US Treasury ke 3%, itu bisa menekan rupiah ke Rp 13.800 per dolar AS," ujarnya.


Reporter Adinda Ade Mustami, Barratut Taqiyyah Rafie, Ghina Ghaliya Quddus, Ramadhani Prihatini
Editor Barratut Taqiyyah

MAKROEKONOMI

Feedback   ↑ x
Close [X]