: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Siap-siap, properti menanti musim semi (1)

Siap-siap, properti menanti musim semi (1)

Pun Archied Noto Pradono, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi PT Intiland Development Tbk meyakini hal yang sama. Ia bilang, alasan masyarakat untuk membeli rumah kini makin bertambah, terutama melalui skema kredit.

Persoalannya, jeda waktu antara penurunan suku bunga acuan bank sentral dengan bunga pinjaman perbankan masih terlalu lama. Bahkan, seringkali butuh waktu hingga berbilang bulan sebelum bank ikut memangkas rate. Toh, efek pemangkasan BI 7-Day Rate Repo pada 22 Agustus lalu saja belum terasa dampaknya ke bunga kredit bank.

Dari kacamata lain, turunnya BI 7-Day Rate Repo lebih cepat diadaptasi oleh bank di sisi bunga simpanan. Tengok saja, empat bank pelat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sudah sepakat menggunting bunga deposito.

Kesepakatan itu terkait pengaturan bunga spesial (special rate) yang diberikan kepada deposan kelas kakap. Bunga spesial di bank-bank negara yang tadinya rata-rata 6,75% dipatok paling mentok 6,35%.

Nah, kata Archied, tren penurunan bunga simpanan bisa mendorong pemilik dana menengok instrumen lain. “Mereka (pemilik dana) punya pilihan karena tabungannya imbalnya lebih rendah dan biasanya investasi di aset jadi lebih menarik. Seperti di properti misalnya,” pungkasnya.

Namun, tentunya minat berinvestasi properti tidak akan muncul di semua proyek. Konsumen kini lebih selektif, hati-hati, dan rasional dalam memilih produk properti. Sehingga, hanya produk yang bagus dengan harga yang rasional pula yang bisa menarik minat pembeli.

Lagipula, Adrianto Pitoyo Adhi, Dirut PT Summarecon Agung Tbk menyebut, permintaan properti oleh investor memang masih rendah. “Investor masih enggan membeli. Mungkin saat ini investor juga masih pegang barang yang mungkin belum mau dilepas karena harga belum baik,” ujarnya.

Kinerja membaik

Terlepas dari persoalan minat  investor yang masih rendah, prospek sektor properti diyakini akan semakin cerah. Toh, di Summarecon, penjualan masih didominasi oleh produk properti dengan harga di bawah Rp 2 miliar. Ini merupakan produk bidikan konsumen pengguna akhir kelas menengah, bukan market investor.

Sampai dengan Agustus 2017 nilai pra penjualan perusahaan itu sudah mencapai Rp 1,8 triliun dari target full year Rp 3,5 triliun. “Dengan kondisi hasil penjualan yang disampaikan di atas kami sangat yakin (properti) akan segera pulih,” kata Adrianto.

Pengembang lain, PT Intiland Development Tbk juga menunjukkan kinerja yang kinclong. Per Juni 2017, marketing sales perseroan sebesar Rp 1,1 triliun dari target Rp 2,3 triliun hingga penghujung 2017.

Nah, pada 22 Agustus lalu, Intiland merilis 57 Promenade, yang merupakan kawasan terintegrasi seluas 3,2 hektare (ha) di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Awalnya, kata Archied, dari 57 Promenade, Intiland cuma mematok target pra penjualan Rp 520 miliar.

Kenyataannya, lanjut Archied, nilai marketing sales-nya malah mencapai Rp 1,6 triliun. Dus, belum juga tahun 2017 berakhir, target pra penjualan DILD sudah mencapai Rp 2,7 triliun atawa melampaui target senilai Rp 2,3 triliun.

Dus, para pengembang sepakat, sejauh ini tanda-tanda perbaikan di sektor properti sudah mulai terlihat. Namun bukan berarti masa keemasan sektor ini bakal segera menjelang.

“Saya perkirakan akan ada pertumbuhan yang lebih baik tahun depan. Tapi belum booming karena masih dalam tahap awal recovery,” kata Direktur Ciputra Group, Harun Hajadi.

Sementara itu, Anton Sitorus punya pandangan lain. Ia menilai, sektor properti masih kesulitan merangkak naik. Alasannya, properti tidak lagi menghasilkan capital gain yang semenarik instrumen lain, misalnya di pasar keuangan.

Bahkan, di daerah-daerah yang populer seperti Serpong di Tangerang, Cibubur dan kawasan Sudirman di Jakarta, prospek capital gain hampir tidak ada. “Orang beli properti seharga Rp 2 miliar–Rp 3 miliar, belum kebayang harganya 1–2 tahun ke depan seperti apa,” ujar Head of Research and Consultancy PT Savills Consultants Indonesia itu.

Penyebabnya, permintaan masih terbatas. Di sisi lain harga properti saat ini sudah kelewat tinggi. Ini didorong oleh aksi spekulasi tidak hanya di sisi pembeli. Pengembang ditengarai tidak menerapkan strategi harga yang lebih rasional. Hal ini juga berlaku di semua kelas properti.

Dus, jika cara ini tidak diubah, sulit berharap sektor properti bisa bangkit lebih cepat. “Developer memberikan positioning harga tidak hanya berdasar supply dan demand tapi juga spekulasi. Ini membuat dalam beberapa tahun terakhir harga properti naiknya signifikan,” tandas Anton.

Jadi, jualannya jangan kemahalan lagi dong!

Bersambung : Ini Bukan Semata Soal Suku Bunga

* Artikel ini berikut seluruh artikel terkait sebelumnya sudah dimuat di Tabloid KONTAN, pada Rubrik Laporan Utama edisi 2 Oktober 2017. Selengkapnya silakan klik link berikut: "Prospek Membaik Tapi Belum Melejit"

 

 

 


Reporter Arsy Ani Sucianingsih, Ragil Nugroho, Tedy Gumilar
Editor Mesti Sinaga

INDUSTRI PROPERTI

Feedback   ↑ x
Close [X]