: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Siap-siap, properti menanti musim semi (1)

Siap-siap, properti menanti musim semi (1)

Namun, Filianingsih melihat tanda-tanda perbaikan sudah mulai terlihat. Penjualan properti, terutama di pengembang skala besar mulai bertumbuh, rata-rata 30%. Sinyal membaiknya industri properti juga terlihat dari data Kredit Pemilikan Rumah (KPR) teranyar yang diumumkan oleh bank sentral.

Pada Juli 2017, pertumbuhan KPR mencapai 8,59%, lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan pembiayaan industri perbankan yang 8,20%. Yang menarik, selama dua tahun terakhir, baru kali ini pertumbuhan KPR bisa melampaui rata-rata pertumbuhan kredit di perbankan.

Kabar baiknya, Filianingsih menambahkan, tren positif pertumbuhan KPR juga berlanjut hingga bulan Agustus 2017. Pada bulan tersebut, nilai penyaluran KPR tumbuh 9,66% berbanding 8,26% pada periode yang sama tahun lalu.

Angka pertumbuhan yang menyenangkan itu terjadi di hampir semua segmen residensial, baik rumah tapak maupun hunian jangkung. “Diperkirakan semester II 2017 akan dapat menjadi titik balik membaiknya pertumbuhan sektor properti yang tecermin dari pertumbuhan KPR di Juli dan Agustus 2017,” kata Filianingsih.

Pencapaian tersebut tidak lepas dari relaksasi rasio Loan To Value (LTV) yang dikeluarkan BI pada kuartal III 2016. Sekadar menyegarkan ingatan saja, sejak 29 Agustus 2016 BI memangkas aturan LTV KPR.

Semula, pembeli properti mesti menyediakan uang muka 20%, diturunkan menjadi cukup 15% saja. Selain itu, fasilitas KPR secara inden juga diperkenankan untuk pembelian rumah kedua dan ketiga.

Nah, di kantong bank sentral, kini tersimpan rencana untuk memberlakukan kebijakan LTV yang baru. Jika target Gubernur BI Agus Martowardjojo tidak meleset, regulasi anyar itu akan diterbitkan tahun ini juga.

Bentuknya, LTV spasial yang akan membuat uang muka yang dibayarkan konsumen di setiap daerah berbeda-beda.

Tidak berdampak

Cuma, rupanya perbankan tidak sejalan dengan pendapat BI. Felicia Mathelda Simon menyebut, relaksasi LTV yang dilakukan BI tahun lalu belum berdampak signifikan terhadap pertumbuhan KPR.

Executive Vice President (EVP) Consumer Credit Business Bank BCA  itu menilai, faktor ekonomi yang belum kondusif masih menjadi faktor penghambat pertumbuhan industri properti.

Betul, hingga semester I-2017 pertumbuhan KPR BCA di atas rata-rata industri. Secara umum, pertumbuhan KPR di semester I 2017 masih di bawah 9% (year-on-year/yoy). Sementara dalam periode yang sama, Bank BCA bisa menorehkan pertumbuhan 21,9% (yoy).

Cuma, “Pencapaian ini tidak lepas dari promosi selama Februari–April 2017 dalam rangka ulang tahun BCA ke 60,” kata Felicia.

Hingga 28 April lalu, Bank BCA memang memberikan promosi menarik untuk pengajuan KPR. Nasabah bisa mengikuti program dengan  suku bunga 6,0% efektif per tahun, yang tidak berubah selama dua tahun pertama.

Kondisi serupa juga terjadi di  Bank OCBC NISP. Veronika Susanti, Customer Solution Retail Loan Division Head Bank OCBC NISP mengakui, uang muka yang lebih rendah memang membantu masyarakat yang ingin membeli rumah.

Cuma persoalannya, harga rumah sudah terlalu mahal. Ini membuat pasar KPR yang didominasi konsumen pengguna akhir (end user) tetap tidak siap membayar uang muka rumah sebesar 15% dalam waktu singkat, 3–6 bulan.

Tidak aneh jika di lapangan pengembang memberikan masa cicilan uang muka yang panjang, antara 12 hingga 36 bulan, tergantung progres pembangunan propertinya. “Dampaknya, penjualan propertinya tahun 2017, baru akan realisasi KPR tahun 2018. Begitu seterusnya,” terang Veronika.

Terlepas dari itu, perbankan cukup optimistis pemangkasan suku bunga acuan bakal berdampak positif ke properti. Wujudnya, tentu lewat penurunan suku bunga kredit, termasuk KPR.


Reporter Arsy Ani Sucianingsih, Ragil Nugroho, Tedy Gumilar
Editor Mesti Sinaga

INDUSTRI PROPERTI

Feedback   ↑ x
Close [X]