kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.619
  • EMAS590.870 -0,68%
FOKUS /

Rupiah buntung, utang menggunung (2)

Rabu, 25 Juli 2018 / 17:35 WIB

Rupiah buntung, utang menggunung (2)
ILUSTRASI.

Maklum sebagian besar proyek yang digarap oleh perusahaan konstruksi adalah proyek properti seperti apartemen maupun perumahan. Nah, pengembang properti ini bisa jualan dengan lancar saat suku bunga kredit murah.

“Suku bunga tinggi itu yang berdampak pada kami,” ujar Agus. Karena itu PT PP merasa perlu untuk menata kembali aksi korporasi mereka.

Waskita Karya juga mengkhawatirkan hal yang sama. Sebab selama ini mereka banyak mengandalkan pinjaman bank untuk mendanai proyek. Untuk itu wajar bila perusahan pelat merah tersebut berharap keputusan Bank Sentral tidak akan mempengaruhi suku bunga kredit. “Kalau naik, kan fasilitas kredit kami cukup besar,” beber Haris.

Mengurangi utang

Menurut pengamatan ekonom Indef Bhima Yudhistira, dalam himpitan rupiah melemah, suku bunga naik, bahan material naik membuat banyak korporasi yang tidak banyak pilihan.

Mereka harus memperlambat pertumbuhan utang luar negeri. “Kamis (5/7) saya cek utang luar negeri swasta dari Januari sampai April berkurang US$ 1,1 miliar.  Jadi sudah terlihat tanda-tanda mereka mulai mengerem untuk mendapatkan utang yang baru,” katanya.

Untuk utang yang akan jatuh tempo, mau tidak mau mereka harus melakukan refinancing. Untuk spesifikasi utang luar negeri korporasi BUMN, dampak langsungnya pasti akan terasa pada cashflow. “BUMN Karya kan cashflow-nya cukup berdarah-darah. Bahkan ada yang negatif. Kondisi itu akan memburuk bahkan sampai 2019,” katanya.

Apalagi mereka sudah melakukan proyeknya setengah jalan, mau tidak  mau tidak akan mungkin distop. Karenanya, mereka harus menambah utang atau pinjaman baru.  

Sementara itu, sebagai antisipasi kenaikan suku bunga, PT PP akan segera melakukan penagihan-penagihan piutang mereka agar menjadi tunai.

Sementara Garuda Indonesia saat ini pilih menahan diri untuk menerbitkan utang baru. Garuda berencana menerbitkan surat utang berdenominasi dollar AS sebesar US$ 750 juta di bursa Singapura. “Kami masih wait and see,” kata Helmi.

Sedianya dana hasil penerbitan obligasi akan dipergunakan  untuk melunasi obligasi rupiah yang jatuh tempo tahun ini. Obligasi Berkelanjutan I Garuda Indonesia Tahap I Tahun 2013 yang diterbitkan 1 Juli 2013 dengan nilai Rp 2 triliun tercatat jatuh tempo pada 5 Juli 2018.

Kini Garuda mengutamakan pendanaan dalam negeri yaitu melalui penerbitan kontrak investasi kolektif (KIK) Efek Beragun Aset (EBA) . Nilai maksimal dana yang dibidik mencapai Rp 4 triliun. Sekarang masih proses book building oleh PT Mandiri Manajemen Investasi. “Mungkin awal pekan depan sudah selesai,” imbuhnya.

Senada dengan Garuda, Waskita Karya juga mengkaji ulang rencana penerbitan obligasi Rp 3,5 triliun pada semester II. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk merestrukturisasi utang. “Kalau pasar seperti ini, yield obligasinya kan masih tinggi,” kata Haris.          ◆

 

Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Laporan Utama Tabloid KONTAN edisi 9 Juli-15 Juli  2018. Artikel berikut data dan infografis selengkapnya silakan klik link berikut: Mereka Murung Saat Rupiah Buntung


Reporter: Fransiska Firlana, Kiki Safitri, Pratama Guitarra, RR Putri Werdiningsih
Editor: Mesti Sinaga

KURS RUPIAH

TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0772 || diagnostic_web = 0.2961

Close [X]
×