kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.619
  • EMAS590.870 -0,68%
FOKUS /

Rupiah buntung, utang menggunung (2)

Rabu, 25 Juli 2018 / 17:35 WIB

Rupiah buntung, utang menggunung (2)
ILUSTRASI.

Padahal biaya operasional seperti pembelian bahan bakar avtur, pembelian suku cadang , perawatan pesawat dan ongkos-ongkos lain mayoritas menggunakan dolar. Selain biaya operasional Garuda juga memiliki kewajiban membayar cicilan maupun sewa pesawat kepada pihak lessor memakai dolar AS.

Jumlahnya sekitar 25% dari total beban operasional perusahaan bulanan. Mengutip laporan keuangan perusahaan pada akhir Maret 2018 posisi utang ke pihak lessor telah mencapai US$ 77,27 juta.

Hanya saja Helmi merasa Garuda masih beruntung lantaran telah menerapkan kebijakan lindung nilai atau hedging. Helmi menyebut porsi hedging valas Garuda sekitar 30% dari total kebutuhan dollar. “Ini cukup efektif,” terangnya.

Revisi nilai proyek

Perusahaan yang harus berurusan dengan valas lantaran butuh beberapa bahan baku impor untuk pekerjaan di proyek mereka adalah perusahaan konstruksi.

Sebagian dari mereka bakal kesulitan lantaran tak bisa serta merta langsung mengubah kontrak secara sepihak lantaran harga barang sudah berubah akibat rupiah loyo.

Menurut Direktur Keuangan PT PP Agus Purbianto, untuk proyek-proyek konstruksi yang sifatnya single year, biasanya kenaikan harga material yang sudah diantisipasi sekitar 2% hingga 3%. Artinya kalau ada lonjakan harga di atas 3% bisa jadi bakal menyebabkan berkurangnya keuntungan di satu proyek tersebut.

Namun, beda dengan proyek yang sifatnya multi years. Biasanya kontraktor dan pemilik proyek telah bersepakat untuk melakukan penyesuaian harga atawa price adjustment.

Nah pada saat itulah manajemen PTPP akan melakukan renegosiasi ulang agar tetap bisa menjaga margin yang mereka targetkan di proyek tersebut.

Dampak lain dari melemahnya rupiah adalah membengkaknya rasio utang perusahaan. Terutama perusahaan yang punya utang valas, tapi menyampaikan laporan keuangan dalam mata uang rupiah.

Agus Purbianto menyebut, di  PT PP saat ini porsi utang valasnya sangat kecil sehingga tak perlu memberikan perlakuan khusus seperti hedging. Menurut Agus, nilai utang valas sekitar US$ 3 juta, imbang dengan aset valas yang dimiliki PTPP yakni sebesar US$ 3,2 juta

Direktur Keuangan Waskita Karya Haris Gunawan juga menyatakan hal senada. Ia menyebut kewajiban valas emiten berkode saham WSKT di bursa efek Indonesia ini masih kurang dari 5%.

Kalaupun pelemahan rupiah terus berlanjut dan mempengaruhi harga bahan baku, kemungkinan WSKT baru akan merasakan dampaknya.
“Untuk utang jangka pendek rata-rata kami roll over, jadi enggak besar,” terangnya.

Yang justru menjadi kekhawatiran pelaku usaha adalah dampak dari kebijakan yang diambil oleh otoritas moneter untuk meredam pelemahan rupiah yakni menaikkan suku bunga acuan. Seperti kita tahu, Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 1% dalam dua bulan terakhir, dari 4,25% menjadi 5,25%.

Pengusaha khawatir kondisi ini segera diikuti oleh perbankan nasional dengan menaikkan suku bunga pinjaman mereka. Padahal bisnis konstruksi sangat sensitif dengan kenaikan suku bunga kredit.


Reporter: Fransiska Firlana, Kiki Safitri, Pratama Guitarra, RR Putri Werdiningsih
Editor: Mesti Sinaga

KURS RUPIAH

TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0011 || diagnostic_api_kanan = 0.0629 || diagnostic_web = 0.2872

Close [X]
×