: WIB    --   
indikator  I  

Rhenald Kasali: Shifting masih berlanjut, inovasi!

Rhenald Kasali: Shifting masih berlanjut, inovasi!

Mixed Results

Jadi dengan data yang sangat umum, sampai saat ini, mungkin saja kesimpulannya belum bisa kita tarik. Namun perlahan-lahan data baru juga berdatangan.

Berikut adalah data keuangan pertumbuhan penjualan beberapa perusahaan publik semester I 2017 yang diambil dari IDX:  Kalbe Farma 5,3%, Mayora 1,2%, Astra 11%; Ace Hardware 18%, HMSampoerna: -1,6%, Merck 5%, Sido Muncul -6,8%, Gudang Garam 8,9%, Unilever 2,5%, Ultra Jaya 0,9%, Prodia 3,7%, Semen Indonesia 1,9%, Indofarma 2,1%; Tempo Scan -2%, AlfaMidi 18,3%, dan Hero Supermarket -3,9%.

Ini menjadi sulit membaca dampak daya beli secara nasional karena mixed result yang sekilas memang masih positif. Namun baiklah, anggap saja sebagian pelaku usaha lainnya belum mengumumkan prestasi yang dicapai.

Saya sendiri menemukan gejala-gejala menarik di tengah kegalauan sebagian pihak yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Juga ditemukan fakta adanya perusahaan yang  penjualannya turun namun keuntungannya naik. Hero misalnya (keuntungan sebelum pajaknya malah naik 341%). Sebaliknya Mayora yang penjualannya tumbuh hanya 1,2%, operating profitnya sudah minus 17%.

Apakah prestasi yang dicapai masing-masing perusahaan itu cerminan dari daya beli pasar pada segmen yang digeluti masing-masing pelaku usaha atau kualitas inovasi dan manajerialnya?

Ini tentu menjadi PR bagi para pelaku usaha, pemerintah dan peneliti agar tidak menimbulkan kebingungan.

Ini menjadi penting sebab bila eksekutif “salah membaca” dan beranggapan penurunan pendapatannya karena daya beli, maka ia akan memilih menunggu, bukan berinovasi atau memperbaiki business process-nya. Sebab mereka pikir, daya beli itu ada di luar kendalinya.

Pertanyaannya, andaikan benar itu masalah daya beli, apakah penjualannya kelak akan kembali lagi  setelah daya beli membaik?

Shifting Masih Terus Berlanjut

Maaf, saya perlu mengingatkan para eksekutif dan regulator agar lebih berhati-hati membaca sinyal-sinyal lembut perubahan yang terjadi kali ini.

Perubahan kali ini bersifat disruptif, bukan kontinum. Ia mengubah platform, bukan renovasi sesaat. Dan ia bisa merobohkan pelaku-pelaku lama (incumbent), seberapa pun kuatnya brand, reputasi atau penerapan ountinuous innovation.

Amati terus inovasi disruptif yang berpotensi menghancurkan lapangan pekerjaan kalau dikendalikan dari luar secara agresif.

Maka, selain aspek daya beli atau keinginan membeli yang perlu terus didalami itu kita masih akan mendengar nama-nama besar yang berpotensi bertumbangan walaupun saat ini masih menuai banyak keuntungan. Inovasi para pendatang baru yang masih kecil yang terkesan "membakar uang" jelas tak bisa diabaikan.

Harap Anda membacanya dengan penuh hati-hati. Sebab saat penjualannya turun besar-besaran dan harus dialihkan ke Microsoft, Nokia (2013)  tak berani menyalahkan daya beli. Walaupun pada saat yang sama, Kodak (2013) juga bangkrut.

Lalu tahun-tahun berikutnya (2016), penjualan hampir semua toko ritel di Amerika Serikat  juga ikut turun dan ratusan outlet toko milik Wallmart, Macy’s, Kohl’s, Sears ditutup di banyak lokasi. Padahal, di Amerika Serikat, Forrester dan eMarketer memperkirakan bisnis retail online  di AS pada akhir tahun ini baru mencapai sekitar US$ 440 miliar atau kurang dari 8% dari total penjualan ritel.

Namun, meski persentasenya kecil, secara empiris hal itu sudah terbukti cukup melumpuhkan peritel konvensional besar di Amerika Serikat. Mungkinkah itu juga yang tengah terjadi di sini? Ia bisa saja menghancurkan secara selektif.


SUMBER : Kompas.com
Editor Rizki Caturini

DAYA BELI KONSUMEN

Feedback   ↑ x
Close [X]