: WIB    —   
indikator  I  

Properti masih loyo, pajak progresif ditunda

Properti masih loyo, pajak progresif ditunda

Perlu kaji ulang

Pemerintah nampaknya mengulur waktu, lantaran kebijakan pajak progresif ini bersifat kompleks. Jika tidak hati-hati, industri properti bisa terguncang. Efeknya bakal menjalar ke industri lain, termasuk perbankan. Dus, bisa mengancam pertumbuhan ekonomi nasional.

Baru-baru ini, Darmin mengakui, pemerintah perlu mengkaji lebih rinci mekanisme pengutipan pajak. Sebab, katanya, pengenaan pajak terhadap aset yang menganggur sifatnya lebih complicated. “Sehingga perlu dikaji lebih matang,” ungkapnya.

Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Arteria Dahlan menganggap penundaan rencana kebijakan pajak progresif bagi apartemen kosong dan tanah terlantar, sebagai hal yang wajar. "Menurut saya tidak masalah, karena pemerintah memang butuh pertimbangan yang lebih matang soal ini," katanya, Rabu (3/5).

Untuk itu, dalam waktu dekat, pihaknya akan melakukan rapat koordinasi dengan Kementerian ATR/BPN untuk mencari solusi yang lebih tepat.

Sejatinya, Arteria menilai, pengenaan pajak progresif kurang tepat bagi para pelaku usaha. Pasalnya, aturan tersebut berpotensi melemahkan bisnis properti. "Banyak hal yang harus kita jaga, salah satunya keberlangsungan dunia usaha," ungkapnya.

Meski begitu, Arteria mengakui, Komisi II DPR belum memiliki rencana strategis khusus untuk menangani masalah penggunaan lahan dan bangunan yang tidak efektif. "Kemungkinan, kami akan menyiapkan beberapa opsi lain di luar pajak progresif sebagai solusi," katanya.

Agus Pambudi menegaskan, aturan pajak progresif perlu segera diterapkan. Jika tidak, dampaknya jelas ketimpangan sosial akan semakin luas dan tata ruang makin tidak karuan.

Namun, lanjut Agus, penerapan pajak progresif harus dengan skema yang lebih ramah bagi para pelaku usaha. "Saran saya, berlakunya pajak progresif ini harus bertahan. Tidak langsung besar di depan. Pelan-pelan dulu, mulai dari nominal kecil, lalu naik tiap tahun," ungkapnya.


Reporter Adinda Ade Mustami, Dupla Kartini, Elisabeth Adventa, Ghina Ghaliya Quddus, Hasyim Ashari
Editor Dupla Kartini

PAJAK PROGRESIF TANAH

Feedback   ↑ x
Close [X]