| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.473
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS600.960 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%
FOKUS /

Peta konglomerasi pasca 20 tahun reformasi (1): Cakar bisnis naga kian menancap

Selasa, 03 Juli 2018 / 19:54 WIB

Peta konglomerasi pasca 20 tahun reformasi (1): Cakar bisnis naga kian menancap
ILUSTRASI. Pabrik Chandra Asri Petrochemical
Berita Terkait

* Grup Barito Pacific

Konglomerasi lainnya yang sukses melewati berbagai krisis ekonomi adalah Barito Grup, milik Prajogo Pangestu. Berawal dari perusahaan kehutanan, Barito yang memulai bisnis kayu itu membuktikan kepiawaian menjalankan bisnisnya hingga ke generasi kedua.

Jika dulu perusahaan berkutat dengan perkayuan, kini Barito punya beragam bisnis, mulai dari petrokimia, properti dan energi. Barito juga mulai mengintip bisnis digital.

Bisnis Barito berkembang di era 90-an, lalu ekspansi ke petrokimia dengan mendirikan industri kimia Chandra Asri dan Tri Polyta Indonesia.

Saat krisis ekonomi, Barito sempat goyah. Prajogo pernah bertutur, sebelum krisis kapitalisasi pasar Barito sempat US$ 5 miliar, setelah krisis, kapitalisasi pasarnya anjlok menjadi US$ 3 juta.

Krisis ekonomi yang menumbangkan rupiah membuat utang Barito dalam dolar senilai US$ 1,8 miliar makin berat. Alhasil, piutang bank kepada Grup Barito diambil oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dengan tagihan US$ 1 miliar lebih.

Dalam buku berjudul “Indonesia Dikhianati” yang ditulis Elizabeth Fuller Collins, diceritakan, ada 17 anak perusahaan Barito Grup berutang US$ 1,25 miliar. Prajogo bahkan disebut sebagai pengutang kedua terbesar di Indonesia.

Untuk mengatasi utang itu, Prajogo melakukan negosiasi dengan BPPN. Hasilnya, Prajogo menyerahkan 20 perusahaan yang terlilit utang ke BPPN. Sejak itu, Barito tertatih melewati krisis, hingga 2004 perusahaan kembali didera krisis global karena harga minyak meroket.

Barito kemudian kembali merelakan dua perusahaannya berpindah tangan alias dijual. Baru tahun 2007, Barito melakukan diversifikasi bisnis dan memperkuat bisnis petrokimia dengan akuisisi 70% saham Chandra Asri senilai Rp 9,76 triliun.  Prajogo punya 14,6% saham di perusahaan itu.

Tahun 2010, Prajogo menggabungkan Chandra Asri dan Tri Polyta menjadi Chandra Asri Petrochemical, dan menjadi produsen petrokimia terbesar dan terintegrasi di Indonesia.

Dua tahun belakangan, Barito juga mulai melirik bisnis digital. Meski sempat bilang enggan masuk ke bisnis teknologi, namun lewat anaknya Baritono Pangestu, Barito kini memiliki Kejora Venture Capital.

Kejora kini berinvestasi lewat Investree, Jualo.com, Cekaja.com, Qerja.com dan lainnya. “Bisnis ini terpisah (dari BRPT),” kata Agus Salim Prajogo, Presiden Direktur Barito Pacific kepada KONTAN.


Reporter: Asnil Bambani Amri, Francisca Bertha Vistika, RR Putri Werdiningsih
Editor: Mesti Sinaga

KONGLOMERASI

TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0405 || diagnostic_web = 0.1932

×