| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.473
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS600.960 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%
FOKUS /

Peta konglomerasi pasca 20 tahun reformasi (1): Cakar bisnis naga kian menancap

Selasa, 03 Juli 2018 / 19:54 WIB

Peta konglomerasi pasca 20 tahun reformasi (1): Cakar bisnis naga kian menancap
ILUSTRASI. Pabrik Chandra Asri Petrochemical
Berita Terkait

* Grup Sinarmas

Siapa yang tak kenal dengan Sinarmas? Perusahaan milik Eka Tjipta Widjaja, konglomerat terkaya ke-2 di Indonesia dengan kekayaan US$ 9,1 miliar itu. Perusahaan yang bermula dari bisnis makanan di Makassar tersebut kini telah merambah kemana-mana.

Meski pernah hampir kolaps dan melepas kepemilikan di Bank Internasional Indonesia (BII), nyatanya Sinarmas berhasil bangkit.

Gandi Sulistiyanto, Managing Director Sinarmas Group bilang, periode terberat terjadi pada 2001 karena terjerat utang dan harga komoditas minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan kertas anjlok. “Utang kami sampai US$ 13,5 miliar,” kata Gandhi.

Aksi penyelamatan pun dilakukan. Sinarmas merestrukturisasi utang ke semua kreditur pada 2003. Alhasil, utang yang dijadwalkan lunas 20 tahun akhirnya lunas lebih cepat.

Selain itu, lini bisnis Sinarmas juga bertambah, dari empat lini (kertas, CPO, keuangan dan properti), pada era 1990-an, kini mendapat tambahan lini bisnis energi dan telekomunikasi.

Meski gagal di bisnis perbankan, Sinarmas tak jera dan kembali masuk bisnis bank dengan mengakuisisi saham Bank Shinta pada 2005. Bank ini berganti nama menjadi Bank Sinarmas. Hanya, Gandi enggan memerinci apa bisnis terbesar yang menopang Sinarmas.

Baginya semua unit bagus, dan independen. Hanya saja ia tak dapat memungkiri secara aset sektor kertas dan sawit tetap yang paling besar. “Pertama pulp and paper kemudian kedua kelapa sawit,” jelasnya.

Ekspansi terbaru yang sedang digeluti Sinarmas adalah masuk ke perusahaan modal ventura dengan mendirikan Sinar Mas Digital Venture (SMDV).

Perusahaan ini telah berinvestasi ke perusahaan rintisan seperti aCommerce, HappyFresh, GiftCard Indonesia, Cantik, dan Female Daily Network.
SMDV diharapkan jadi tulang punggung Sinarmas di kemudian hari.

Semua bisnis digital afiliasi Sinarmas nanti berada di bawah naungannya. “Ini bukan sektor ketujuh, tapi pendukung seluruh lini usaha,” tandasnya.

Yang paling anyar, Maret 2018 lalu, SMDV menggandeng East Ventures dan Yahoo Jepang untuk membentuk EV Growth. Entitas baru ini menargetkan pengumpulan modal dari investor US$ 150 juta. Dana ini akan disuntikkan ke start-up.


Reporter: Asnil Bambani Amri, Francisca Bertha Vistika, RR Putri Werdiningsih
Editor: Mesti Sinaga

KONGLOMERASI

TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.4034 || diagnostic_web = 1.4934

×