kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
FOKUS /

Pembatasan impor tembakau justru jadi kompor (2)

Rabu, 17 Januari 2018 / 14:40 WIB

Pembatasan impor tembakau justru jadi kompor (2)
ILUSTRASI. HARGA TEMBAKAU PETANI NAIK

Menukil data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian tahun 2015, luas areal tanam tembakau jenis ini cuma 28.949 hektare (ha). Luas lahan itu setara dengan 13,8% dari total luas areal pertanian tembakau di Indonesia. Sementara produksinya hanya 38.371 ton, atau cuma 19,8% dari total produksi tembakau nasional.

Untuk tembakau jenis burley yang impornya juga dibatasi, areal dan produksinya lebih kecil lagi. Luas lahan tembakau jenis ini paling banyak tersebar di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Itu pun total luas areal tanamnya terbatas 997 ha. Sementara produksi tembakau burley cuma 1.417 ton.

Apa yang mendasari keputusan Kemendag, rupanya tidak diketahui oleh kementerian teknis sejak awal. Seorang pejabat di Kementerian Pertanian berbisik, terkait yang dibatasi justru jenis tembakau yang jarang atau tidak ada di Indonesia, ini yang sedang dikomunikasikan dengan Kemendag.

Kemitraan

Dus, kalau mau membuat aturan yang lebih efektif menolong petani, ada beberapa hal yang paling tidak perlu dibereskan pemerintah, yakni, mendorong kualitas dan produktivitas tembakau petani lokal.

Hal itu bisa dilakukan melalui mandatory (kewajiban) kemitraan pabrik dengan petani. Jadi, pabrik rokok punya kepentingan yang lebih besar terhadap kualitas dan volume produksi tembakau lokal. Kata Budidoyo, soal wajib bermitra dengan petani sudah diusulkan sejak lama ke pemerintah. Namun, sampai saat ini tidak juga digubris.

Kemitraan tidak hanya dibangun di atas lahan yang sudah ada. Dalam perhitungan Budidoyo, dengan luas lahan saat ini, produktivitas bisa digenjot paling banter hingga sekitar 200.000 ton per tahun. Masih jauh dari kebutuhan yang sekitar 350.000 ton.

Maklum, kondisi lahan dan struktur tanah membuat produktivitas ada batasannya. Ada daerah yang bisa menghasilkan hingga 1,5 ton tembakau per ha. Tidak sedikit yang produksinya rata-rata cuma 700 kg per ha.

Faktor lainnya, kata Soeseno, masih banyak petani yang mengolah lahan tembakaunya secara tradisional. Padahal, teknologi dan cara bertani yang tepat mampu meningkatkan produksi tembakau.

Dua tahun terakhir, program kemitraan sudah dijalankan di beberapa kota penghasil tembakau di Indonesia. Misalnya  Madura, Jember, Bondowoso dan Lumajang serta wilayah sekitar Jawa Tengah yakni Rembang, Wonogiri, dan Purwodadi. Hasilnya, cukup membantu petani yang menjadi mitra.

Rupanya, pemerintah sudah berpikir untuk mendorong kemitraan pabrik rokok dengan petani. Cuma caranya bukan melalui mandatory seperti yang diusulkan oleh Budidoyo dan Soeseno.


Reporter: Arsy Ani Sucianingsih, Ragil Nugroho, Tedy Gumilar
Editor: Mesti Sinaga

TEMBAKAU

Komentar
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web = 0.1972

Close [X]
×