: WIB    —   
indikator  I  

Paradise Papers: Menguak hutan gundul di Indonesia

Paradise Papers: Menguak hutan gundul di Indonesia

Sekelumit tentang Sukanto Tanoto

Berdasarkan keterangan dalam situs resmi perusahaan, Sukanto mengambil alih perusahaan keluarga yang menyuplai suku cadang ke industri minyak dan konstruksi pada 1967.  Tak lama, dia memenangkan kontrak dari perusahaan BUMN minyak dan gas. 

Dia lantas mendirikan RGE di 1973 dan kemudian pindah ke bisnis hutan sebagai pelaku manufaktur kayu lapis. 

Almarhum Presiden RI kedua Suharto, mendorong perkembangan perusahaan dengan memperbolehkan eksploitasi besar-besaran sumber daya alam negara tersebut. Suharto menyatakan bahwa hutan negara - yang mencakup sekitar tiga perempat dari seluruh tanah Indonesia - milik negara, menyingkirkan klaim masyarakat adat atas kepemilikan mereka. Konsesi hutan dibagi antara anggota keluarga, mitra bisnis dan loyalis. Menjelang akhir era Suharto, yang berlangsung sampai tahun 1990an, sekitar 100 juta hektar hutan tropis Indonesia -setara dengan luas area Jerman dan Belanda- telah dilucuti dengan penebangan pohon secara membabi buta.

Tanoto kemudian membuka pabrik pulp dan kertas pertamanya dengan sebuah upacara yang dihadiri oleh Suharto dan kabinetnya. Menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan periset kehutanan di Indonesia, selama bertahun-tahun, perusahaannya mendapatkan keuntungan dari subsidi pemerintah yang murah hati yang diberikan ke sektor kehutanan, termasuk royalti yang dibayarkan kepada pemerintah yang telah dipangkas secara artifisial sejak tahun 1990an. 

RGE menuju offshore

Tanoto lantas pindah ke bisnis minyak kelapa sawit, energi dan serat yang digunakan untuk membuat rayon dan plastik saat pertumbuhan ekonomi Indonesia tengah booming di  pertengahan 1990-an untuk menjadi "harimau Asia."

Menurut catatan yang ditinjau oleh ICIJ, pada saat yang sama, RGE mulai memindahkan urusan keuangannya ke tempat-tempat yang bebas pajak, mendirikan entitas perusahaan di yurisdiksi nol atau rendah, dan memindahkan modal ke luar negeri.

Pada September 1994, potongan pertama dari apa yang akan menjadi kelompok April muncul dengan formasi dua perusahaan di Bermuda. Perusahaan-perusahaan tersebut mempertahankan Appleby untuk mengurus administrasi dan layanan hukum. Dalam setahun, salah satu entitas yang ada di Bermuda itu, yang juga dikenal sebagai April, terdaftar di New York Stock Exchange. 
Menurut dokumen rahasia yang digunakan dalam penyelidikan "Offshore Leaks" ICIJ tahun 2013, penyedia layanan offshore yang berbasis di Singapura yang disebut Portcullis TrustNet membantu RGE mendirikan perusahaan di British Virgin Islands dan dua perusahaan di Kepulauan Cook. Salah satu perusahaan di Kepulauan Cook adalah PEC-Tech Ltd, yang merupakan sebuah firma teknik yang menjadi pemain aktif dalam operasi pulp dan kertas Tanoto.

Bagi beberapa perusahaan yang diciptakan melalui Portcullis, Tanoto menandatangani kontrak yang memberi wewenang kepada perusahaan pihak ketiga untuk melakukan transaksi atas namanya. Tanoto, seorang warga etnis Tionghoa di Indonesia, menandatangani otorisasi dengan nama Tionghoa-nya, Tan Kang Hoo.

Saat krisis finansial, April mendapatkan bailout

Krisis finansial Asia pada 1997 lalu juga menyebabkan ekonomi Indonesia tergelincir sehingga membuat Suharto kehilangan kekuasaannya. Guncangan ekonomi tersebut menyebabkan April harus delisting dari New York Stock Exchange dan terlilit utang senilai US$ 1,3 miliar. 

Kemudian, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan industri sumber daya negara alam. Badan Penyehatan Perbankan Nasional dan kreditur -baik nasional dan internasional- merestrukturisasi utang April dan para pesaingnya. Menurut laporan para pakar kehutanan di Indonesia, April sepakat untuk memperluas operasi bubur kertas di pulau Sumatra dengan imbalan restrukturisasi.

April juga berekspansi ke China, Brazil, dan negara lainnya. Dokumen Appleby menunjukkan bahwa April juga memiliki anak usaha di Dubai, Seychelles, dan negara surga pajak lainnya. Perusahaan-perusahaan ini tidak tercatat di situs April. 

Sementara itu, RGE memindahkan kantor pusatnya ke Singapura, pusat bisnis yang menetapkan pajak finansial rendah. 


Reporter Barratut Taqiyyah Rafie
Editor Barratut Taqiyyah Rafie

PARADISE PAPERS

Feedback   ↑ x
Close [X]