: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Pangkas massal anak cucu BUMN (1)

Pangkas massal anak cucu BUMN (1)

 

 

Justru, perusahaan-perusahaan negara selama ini sudah membantu pelaku usaha kecil yang tidak bisa dijangkau perbankan. Lewat Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, hingga semester I-2017 BUMN telah membina 542.606 pengusaha kecil dan menyalurkan dana sekitar Rp 335,91 miliar.

 

 

Dan, sebab-musabab polemik antara Rini dengan Rosan rupanya menjadi salah satu agenda utama pembicaraan antara Kadin dan pemerintah pada pertemuan 26 Oktober 2017 di Istana Negara.

Kadin meminta agar BUMN dilarang mengerjakan proyek di bawah Rp 100 miliar. Para pengusaha swasta itu juga meminta agar BUMN kembali ke bisnis inti mereka. Anak, cucu dan perusahaan turunan BUMN dilepas ke swasta.

Dalam pertemuan itu Rosan memuji Rini. “Saya apresiasi ibu menteri yang terbuka. Pengusaha nasional, kami, punya banyak kekurangan, tapi di sinilah letak sinerginya. Kami akan tindaklanjuti segera,” ucapnya seperti dilansir dalam keterangan resmi Sekretaris Kabinet.

Tudingan bahwa BUMN terlalu mendominasi bisnis di Indonesia tidak cuma dilayangkan Kadin. Hal serupa juga disampaikan Jim Yong Kim, Presiden Bank Dunia. Jim menyampaikan hal itu di acara Indonesia Infrastructure Finance Forum di Jakarta, 25 Juli 2017 silam.

Kata Jim, pemerintah Indonesia tidak seharusnya menempatkan BUMN bersaing langsung dengan swasta. Peran swasta perlu didorong, khususnya dalam pembangunan infrastruktur. Dengan begitu, bakal muncul kompetisi yang sehat. Dus, pendanaan proyek infrastruktur bisa lebih efisien.

Pemerintah juga tidak boleh melihat BUMN hanya dari besaran pendapatan. Sebab, perusahaan negara bakal terdorong untuk mengejar keuntungan. “Ini membatasi swasta masuk ke infrastruktur. Mereka tak bisa bersaing dengan BUMN karena BUMN memiliki toleransi risiko tinggi karena ada pemerintah,” ujar Presiden Bank Dunia kala itu.

Senada, Luhut pun ikut mempersoalkan dominasi BUMN. Menurutnya, kondisi ini terjadi lantaran jumlah BUMN dan perusahaan turunannya terlalu banyak dan besar. Dus, ia mengaku sudah mengajukan usulan ke Jokowi untuk merestrukturisasi atau menjual BUMN. “Saya bilang ke Presiden, ini tidak sehat,” ujar Luhut, 26 September 2017 lalu.

Banyak sebab
Cuma, jumlah anak, cucu, dan cicit yang bejibun juga bukan maunya BUMN juga. Kondisi tersebut muncul karena berbagai sebab. Ambil contoh soal banyaknya BUMN yang memiliki rumah sakit. Hingga saat ini ada lebih dari 77 rumah sakit dan klinik milik BUMN.

Hal itu tidak lepas dari keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah BUMN tersebut beroperasi. PT Timah Tbk (Persero), misalnya, membangun Rumah Sakit Bhakti Timah lantaran keterbatasan jumlah dan fasilitas rumah sakit umum daerah (RSUD) di Bangka-Belitung yang menjadi basis operasi PT Timah. Kondisi serupa juga terjadi di banyak perusahaan pelat merah lain.

Nah, berdasarkan aturan, BUMN harus mendirikan Perseroan Terbatas (PT) tersendiri untuk mengelola unit usahanya tersebut. Hal ini juga berlaku untuk unit usaha lain yang dibentuk oleh BUMN. “Yang namanya jalan tol tiap ruas ada PT-nya sendiri.

Belum lagi yang di migas, Pertamina itu masing-masing sumur ada PT sendiri. Itu karena regulasinya mengharuskan adanya PT tersendiri,” kata Sekretaris Kementerian BUMN Imam Apriyanto Putro.

Faktor berikut munculnya unit usaha di luar core bisnis tak lepas dari upaya BUMN mengoptimalkan aset yang mereka miliki. PT Pegadaian (Persero) misalnya, punya sembilan hotel yang tersebar di Pekanbaru, Semarang, Yogyakarta, Tegal, Pekalongan, Surabaya, Gresik, dan Makassar. Bisnis hotel ini dijalankan oleh anak usaha Pegadaian, yakni PT Pessona Indonesia Jaya.

Ikhwal Pegadaian berbisnis hotel didorong oleh motif untuk mengoptimalkan aset yang mereka miliki di berbagai daerah. Ini sejalan dengan akronim nama Pessona: Pegadaian Selalu Optimalkan Nilai-nilai Aset.

Optimalisasi aset semacam ini juga ditempuh oleh PT Kereta Api Indonesia dengan mendirikan hotel untuk memanfaatkan aset mereka.


Reporter Agus Triyono, Arsy Ani Sucianingsih, Ghina Ghaliya Quddus, Ragil Nugroho, Tedy Gumilar
Editor Mesti Sinaga

HOLDING BUMN

Feedback   ↑ x
Close [X]