: WIB    --   
indikator  I  

Optimisme menyambut investment grade dari S&P

Optimisme menyambut investment grade dari S&P

Harapan kenaikan rating S&P pada akhir April atau awal Mei tahun ini diyakini dapat memberi dampak positif pada persepsi risiko (credit default swap/CDS), nilai tukar mata uang, yield obligasi, dan investasi langsung. "Secara khusus, akan potensi masuknya aliran dana modal, misalnya dari Jepang, yang saat ini porsi kepemilikan surat utang pemerintah denominasi rupiah masih rendah di 4%," kata Leo. Sebagai perbandingan, kepemilikan AS terhadap surat utang pemerintah denominasi rupiah saat ini sebesar 22%.

Neerah Seth, Kepala Kredit wilayah Asia di BlackRock melihat, Indonesia memiliki sejarah yang baik dalam kedisiplinan fiskal. Pemerintah Indonesia juga memiliki komitmen tinggi pada reformasi fiskal lewat rasionalisasi subsidi BBM serta berbagai paket kebijakan sejak September 2015. 

"Kami memiliki ekspektasi S&P akan menaikkan rating Indonesia menjadi investment grade dalam waktu dekat," kata Seth seperti dikutip CNBC. 

Meski begitu, jika S&P memutuskan tidak menaikkan rating Indonesia, menurut Leo dampaknya akan minor. Contohnya pada Juni tahun lalu ketika S&P tetap menjaga rating BB+ dengan outlook positif. Saat itu, dampaknya minor ke indikator keuangan. Yield obligasi rupiah dan CDS hanya naik 5 basis poin (bps) dan sangat temporer.

Gubernur BI pun masih cukup percaya diri tetap bisa mendapatkan investasi dari luar negeri karena fundamental ekonomi Indonesia yang baik. "Saya melihat antusiasme dunia kepada Indonesia tetap tinggi apalagi dengan kita punya neraca perdagangan terus baik, transaksi berjalan defisitnya terus membaik, dan inflasi yang cukup terjaga," jelas Agus.

Ekonom Bahana Sekuritas, Fakhrul Fulvian melihat pada kuartal-I 2017, kondisi perekonomian Indonesia, sejalan dengan perbaikan dan penguatan yang terjadi di pasar global. Dia meyakini pada kuartal pertama tahun ini, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 4,95% secara tahunan. Ini tidak berbeda jauh dari pencapaian kuartal terakhir 2016, yang tumbuh sebesar 4,94% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

"Bila pemerintah tidak sangat hati-hati dalam membelanjakan anggaran, sebenarnya perekonomian pada kuartal pertama tahun ini bisa mencapai 5,1%. Karena konsumsi  masyarakat dan perbaikan ekspor masih terus memperlihatkan perbaikan kalau kita bandingkan dengan pencapaian tahun lalu," ungkap Fakhrul. 

Menjelang akhir tahun lalu hingga saat ini, kinerja ekspor masih memperlihatkan  kinerja positif sejalan dengan naiknya harga komoditas dan pemulihan ekonomi global. Sedangkan kinerja investasi meski masih memperlihatkan pertumbuhan, namun masih tumbuh single digit.


Reporter Adinda Ade Mustami, Ghina Ghaliya Quddus, Ramadhani Prihatini, Rizki Caturini

RATING INDONESIA

Feedback   ↑ x