| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.502
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS601.968 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%
FOKUS /

Minimarket kian berderet (2): Para raksasa yang ikut tergoda

Selasa, 15 Mei 2018 / 16:10 WIB

Minimarket kian berderet (2): Para raksasa yang ikut tergoda
ILUSTRASI. Persaingan minimarket


Sebelumnya: Minimarket kian berderet (1): Mencuil dominasi raksasa ritel

 

Seorang petinggi jaringan hipermarket di Indonesia pernah berkata, bahwa pesaing terberat mereka bukan pelaku bisnis hipermarket yang lain, melainkan minimarket yang merangsek dekat ke pemukiman.

“Berapa kali dalam seminggu Anda pergi membeli sesuatu ke minimarket, dan berapa kali belanja ke hipermarket?” adalah pertanyaan yang  ia lontarkan untuk membuktikan pernyataannya.

Jangan heran jika para peritel raksasa pun giat membangun jaringan toko eceran mini. Meski belakangan ada yang menyerah dan menutup minimarket mereka, seperti Hero Group, induk usaha Giant yang tahun lalu menutup gerai Starmart.

Nah, yang paling gres, Lotte Group rupanya juga ingin mencicipi pasar kue minimarket. Sejak akhir tahun 2016, mereka meramu program untuk menjangkau konsumen Lotte Grosir lebih dekat lagi.

Maklum, mayoritas konsumen Lotte Grosir adalah pedagang tradisional. “Banyak dari konsumen kami mengaku penjualannya turun, jadi kami cari ide untuk bisa membantu mereka bersaing dengan minimarket ‘merah biru’ yang sudah modern,” kata Bagus Permadi, New Business Development Manager PT. Lotte Shopping Indonesia.

Solusinya, mulai akhir tahun 2017 lalu, Lotte merilis konsep kemitraan dengan nama TMUK, singkatan dari Toko Mitra Usaha Kita-Kita. Tujuan awal dari program ini adalah melakukan modernisasi pada warung atau toko tradisional.

Modernisasi yang dilakukan oleh Grup Lotte, mulai dari interior atau penataan lay out dagangan dan juga eksterior toko sehingga memiliki penampilan standar seperti minimarket.

Saat ini, jumlah kemitraan TMUK sudah ada 28 toko tersebar di di Jabodetabek, Bandung, Bali, dan Lampung. Menurut Bagus, dalam waktu dekat pihaknya akan membuka tiga toko baru lagi.

Manajemen perusahaan ini ingin benar-benar mendorong program TUMK selama tahun 2018 ini. “Target kami, sampai akhir tahun sudah mempunyai 180 kemitraan,” kata Bagus.

Grup Lotte ingin menjadikan program kemitraan sebagai pendukung pertumbuhan bisnis mereka ke depan. Program ini menjadikan mitra TMUK sebagai pemilik sekaligus operator toko.

Makanya, tidak hanya membedah dan mendadani warung milik mitra, Lotte juga melakukan pembinaan untuk karyawan yang bekerja di toko tersebut. Selain itu, Lotte juga membuat standar operasional atawa SOP, membangun sistem teknologi informasi (TI), hingga jaminan pasokan barang.

Karena program ini merupakan bentuk pengembangan bisnis, maka Lotte membuka kesempatan kepada siapa saja yang berminat menjadi mitra TMUK.

Apalagi mereka yang sudah menjadi konsumen Lotte Grosir, baik perorangan, badan usaha dan badan hukum. Meski demikian, manajemen Lotte tetap akan melakukan uji kelayakan pada calon mitranya, terutama lokasi toko.

Untuk menjadi mitra TMUK, calon mitra harus menyiapkan investasi sekitar Rp 77 juta hingga Rp 250 juta, di luar tanah dan bangunan. Besaran biaya kemitraan tergantung dari luas toko dan stok barang yang ingin mereka perdagangkan.


Reporter: Francisca Bertha Vistika, Fransiska Firlana
Editor: Mesti Sinaga

RITEL

TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.0506 || diagnostic_web = 0.2487

Close [X]
×