: WIB    --   
indikator  I  

Menyiasati dompet saat harga dan tarif serba naik

Menyiasati dompet saat harga dan tarif serba naik

Mencoba jurus Ctrl + Alt + Del

Dengan kenaikan harga yang seragam dan memberi dampak, Perencana Keuangan Ahmad Ghozali mengenalkan tiga cara.

Step 1: Hitung dampak
Step 2: Ctrl + Alt + Del
Step 3: Cari keseimbangan baru

Tahap pertama, hitung dampak. Penggunaan BBM dan tarif listrik bisa dihitung. Misalnya kenaikan harga BBM Rp X dikali liter rata-rata penggunaan dalam sebulan. Listrik mungkin agak sulit dihitung tapi bisa dibaca polanya mulai bulan depan. Jika merokok, maka kenaikan harga rokok juga bisa dihitung kembali berapa kenaikannya.

Kedua, gunakan jurus ctrl + alt + del (control, alternate, delete). “Rumus ini bisa dipakai untuk mengevaluasi semua pengeluaran,” kata Ahmad.

Kontrol artinya kita mengendalikan pengeluarannya. Misalnya, untuk penggunaan BBM, setelah tahu berapa yang dikonsumsi per bulan, pengguna bisa menghitung penghematannya.

Alternate artinya mencari alternatif atau pengganti. Misalnya untuk BBM, untuk perjalanan jarak menengah di dalam kota Jakarta menggantinya dengan moda transportasi seperti kereta atau busway.

Delete artinya, sebuah pengeluaran bisa saja di-delete alias dihapuskan. Opsi hapus ini bisa diterapkan pada konsumsi seperti rokok.

Ambil contoh terkait kenaikan harga rokok. Misalnya jika dulu dengan Rp 300.000 bisa membeli 15 bungkus rokok, dengan kenaikan harga hanya tinggal 10 bungkus.

Konsumen bisa menambah bujet untuk membeli rokok atau mengurangi konsumsi (kontrol). Tapi, pembelian rokok juga bisa dihentikan atau di-delete.

“Lakukan analisa ctrl + alt + del terhadap semua pengeluaran yang naik, dan hitung kembali berapa dampak kenaikan harga-harga tersebut,” kata Ahmad.

Tahap ketiga, mencari keseimbangan baru. Misalnya, dengan tambah penghasilan untuk menutup pengeluaran tadi, atau mengurangi pengeluaran yang lain, sehingga total pengeluaran tetap sama.

Menambah penghasilan baru bisa dengan berbagai cara yang tentu disesuaikan dengan potensi masing-masing. Bisa dengan sharing tumpangan arah kantor-pulang kalau membawa kendaraan sendiri, atau pekerjaan tambahan, atau menghasilkan uang dari hobi.

Bagaimana caranya memangkas pengeluaran?

Ahmad menyarankan, mulailah dari pengeluaran paling besar, karena memberi dampak terbesar juga jika dilakukan efisiensi.

Misalnya, pengeluaran terbesar adalah belanja bulanan atau groceries, lakukan analisa ctrl-alt-del terhadap groceries. Apakah ada yang bisa dikurangi, diganti alternatif yang lebih murah. “Atau dihapus saja sekalian yang tidak penting,” kata Ahmad.

Dia mengingatkan, investasi tetap harus dilakukan alias tidak bisa dikorbankan. Hanya saja bisa diefisienkan.

Cara lain, memindahkan instrumen investasi yang terlalu banyak di deposito atau produk berisiko rendah ke reksadana yang memberi imbal hasil lebih tinggi. “Tentu dengan risiko yang lbh tinggi juga, jadi sebaiknya dikonsultasikan dulu sebelumnya,” kata Ahmad.


Reporter Sanny Cicilia
Editor Sanny Cicilia

PLN

Feedback   ↑ x
Close [X]