: WIB    —   
indikator  I  
FOKUS /

Mengulik seretnya pendanaan infrastruktur (3)

Mengulik seretnya pendanaan infrastruktur (3)

Menurut Angi Lim, Presiden Direktur Bowsprit Asset Management, dalam menilai sebuah proyek infrastruktur, MI perlu mempertimbangkan prospek proyek dan return of investment (ROI). Tak lupa, MI harus menyiapkan exit plan atau rencana cadangan yang akan dieksekusi bila proyek mangkrak.

MI juga harus melakukan analisa kelayakan sebelum menawarkan ke investor. Analisa kelayakan harus disertai perhitungan bisnis yang logis sehingga bisa diterima oleh investor. “Di sini MI butuh orang yang punya keahlian di bidang corporate finance dan mengerti mengenai bisnis infrastruktur itu sendiri,” ujarnya.

Sejauh ini Bowsprit baru menangani produk RDPT proyek infrastruktur untuk kawasan industri. Angi menilai prospek kawasan industri cerah karena sudah mendapatkan perusahaan multinasional yang punya komitmen investasi jangka panjang di Indonesia, sebagai tenant.

Menurut Direktur Utama Dana Pensiun (Dapen) Bank Tabungan Negara (BTN) Saut Pardede, memang pasar modal di Indonesia masih tertinggal dalam keragaman instrumen investasi.

Padahal, kebutuhan pendanaan proyek akan makin meningkat. Ia pun berharap, otoritas membuat aturan yang memungkinkan penerbitan instrumen baru.
Tidak sinkron

Dapen, menurut Saut, tentu akan menyambut kehadiran instrumen baru. Namun ia mengingatkan, saat memilih instrumen investasi, dapen akan mengutamakan faktor keamanan dibandingkan return yang tinggi.

Ia mencontohkan, RDPT yang tak punya underlying proyek, akan lebih pas untuk investor yang mentoleransi risiko tinggi, bukan dapen.

Lebih lanjut menurut Saut, dapen tidak perlu memahami detail sebuah proyek saat berinvestasi. Dapen bisa melakukan assesment terhadap hasil rating proyek tersebut atau analisa terhadap proyeksi keuangan oleh pihak ketiga. “Kecuali dapen ingin berinvestasi langsung sebagai pemegang saham pada proyek itu,” ujar Saut.

Proyek infrastruktur yang diminati dapen bisa seperti jalan tol dan pembangkit listrik di Jawa serta proyek lain yang lebih memiliki kepastian.

Senada dengan Saut, Suheri Lubis, Presiden Direktur Dana Pensiun Astra Satu, menekankan pentingnya faktor keamanan dan jaminan. Selain itu, dapen mengutamakan produk investasi yang bisa menghasilkan imbal hasil rutin secara bulanan.

Alasannya, target utama dapen adalah memperbesar dana milik peserta. “Sedangkan untuk proyek infrastruktur, kan, tidak bisa dalam jangka waktu yang singkat,” ujarnya.

Kalau dapen biasanya menginginkan yield bulanan, maka di infrastruktur hitungannya sekitar tiga tahun. “Ini yang kurang sinkron,” tutur dia.

Suheri bilang, pihaknya juga sudah sempat bicara dengan Bappenas. Intinya mereka siap mendukung program RDPT berbasis infrastruktur, asalkan diberi kepastian dan diberikan jaminan. “Secara prinsip, kalau ada peluang instrumen investasi yang lebih menguntungkan maka kami akan prioritaskan kepada instrumen itu,” ujarnya.

Ia memberi gambaran bahwa beberapa waktu lalu, sempat ada tawaran proyek infrastruktur pembangunan jalan tol di kawasan Cirebon. Namun ternyata, proyek itu mangkrak. “Untungnya kami tidak jadi ikutan,” tutur dia.


SUMBER : Tabloid Kontan
Editor Mesti Sinaga

PENDANAAN INFRASTRUKTUR

Feedback   ↑ x
Close [X]