: WIB    —   
indikator  I  

Mengukur panas minyak setelah kesepakatan OPEC

Mengukur panas minyak setelah kesepakatan OPEC

JAKARTA. Harga minyak mentah dunia berhasil menembus level di atas US$ 50 per barel setelah kesepakatan pertama dalam delapan tahun terakhir negara-negara pengekspor minyak yang tergabung dalam OPEC.

Mengacu Bloomberg, Kamis (1/12), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari naik sebanyak US$ 1,28 ke US$ 50,72 per barel di New York Mercantile Exchange pada puku; 13:47 waktu London. Harga kontrak minyak ini melonjak 9,3% pada Rabu (30/11), penguatan terbesar sejak Februari.

Sementara, minyak Brent untuk pengiriman Februari naik 2,6 % menjadi US$ 53,17 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Kontrak Brent Januari yang berakhir pada Rabu melonjak 8,8 % ke level US$ 50,47 per barel.

Kembali memanasnya minyak tersulut kesepakatan yang tercapai para anggota OPEC di Wina pada Rabu (30/11) untuk memangkas produksinya sebesar 1,2 juta barel per hari menjadi 32,5 juta. Langkah ini pun turut diikuti negara produsen minyak di luar OPEC yakni Rusia yang juga berjanji memotong 300.000 barel per hari.

Kesepakatan ini bisa dibilang bersejarah, pasalnya tiga produsen minyak terbesar OPEC yakni Arab Saudi, Irak, dan Iran mampu mengatasi selisih pendapatannya. Sebelumnya, perselisihan ketiga negara ini yang memunculkan skeptisme akan adanya kesepakatan untuk mendukung harga minyak.

Komitmen

Kini, fokus pasar beralih pada kepatuhan para anggota OPEC menjalankan kesepakatannya. "Kepatuhan OPEC untuk perjanjian akan menjadi penting, meski track record-nya miskin tetapi untuk saat ini harga minyak telah mendapatkan dukungan yang besar,” kata Jason Gammel, analis Jefferies Group LLC dikutip dari Bloomberg.

Gammel menambahkan kelompok ini semakin menunjukkan kekompakannya sejak pemotongan produksi pada tahun 2008.

Merujuk pada dokumen OPEC, Arab Saudi, yang menggenjot produksi minyak mencapai rekor tahun ini, akan mengurangi output-nya sebesar 486.000 barel per hari menjadi 10.058.000 barel per hari.

Irak, produsen terbesar kedua OPEC, setuju untuk dipotong sebesar 210.000 barel per hari dari tingkat Oktober. Iran adalah satu-satunya anggota diperbolehkan untuk menaikkan produksi, setelah mengklaim pertimbangan khusus atas sanksi sebelumnya.

Rusia, produsen terbesar di luar OPEC, akan mengurangi produksi sebanyak 300.000 barel per hari dari tingkat saat ini 11,2 juta barel per hari. Menteri Energi Alexander Novak mengatakan Rusia akan menurun produksi secara bertahap mulai semester pertama tahun depan.


Reporter Yudho Winarto
Editor Yudho Winarto

HARGA MINYAK BUMI

Feedback   ↑ x
Close [X]