: WIB    --   
indikator  I  

LTV & amnesti pajak, mampukah gairahkan properti?

LTV & amnesti pajak, mampukah gairahkan properti?

JAKARTA. Perubahan perekonomian dunia menyeret ekonomi domestik pada pusaran ketidakpastian yang cukup panjang. Krisis demi krisis yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di berbagai belahan dunia telah mengubah lanskap ekonomi dunia.

Sebut saja beberapa di antaranya, revolusi di kawasan Arab di 2010 (Arab Spring), devaluasi Yuan di 2015, kebijakan suku bunga negatif di negara maju pada 2015-2016, keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) pada 2016 hingga aksi teror di berbagai kawasan. Hal-hal tersebut membuat ketidakpastian yang tidak terduga. 

Hampir tidak ada negara yang imun dengan krisis dan ketidakpastian ini. Negara maju yang selama ini menjadi sumber krisis telah banyak melakukan berbagai kebijakan untuk mengatasi krisis dan ketidakpastian ini. Namun, sampai saat ini belum bisa membalikkan keadaan.

Itulah sebabnya, International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) cenderung menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia. "Bahkan, sampai tahun 2017 tren ini masih akan terus terjadi. Cukup sulit menemukan sumber pertumbuhan baru," ujar Desmon Silitonga, Pengamat Pasar Modal (Opini Harian KONTAN, 29 Agustus 2016)

Tengok saja, IMF awal bulan ini memangkas target pertumbuhan ekonomi Inggris untuk tahun 2017 menjadi 1,1%. Ini lebih rendah dari target pertumbuhan tahun ini yang sebesar 1,8%. IMF juga memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi AS yakni hanya 1,6% dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 2,2%.

Situasi ekonomi global ikut menekan perekonomian Indonesia. Kinerja ekspor dan investasi melambat. Celakanya, kinerja konsumsi (daya beli) juga melambat. Itulah sebabnya, sejak 2010, tren pertumbuhan ekonomi terus melambat. Bahkan, tahun 2015 menyentuh level terendah di 4,79%. 

Pemerintah pun mencari cara untuk bisa menggairahkan ekonomi domestik. Sektor properti menjadi pilihan pemerintah. Mengapa sektor properti? Lantaran dengan bergairahnya properti, akan mendorong paling tidak 170 bisnis turunannya ikut bergerak. Ambil contoh, arsitektur, pasir, semen, kayu, cat, besi dan lainnya. Selain itu, properti juga menyerap ribuan tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran terbuka

Data Survei Harga properti Residensial Bank Indonesia (BI) menyebut, faktor utama penghambat pertumbuhan bisnis properti adalah suku bunga KPR, uang muka rumah, kenaikan harga bangunan, serta perizinan dan pajak. Pada data yang sama disebutkan, penjualan properti melambat juga tecermin dari rendahnya penyaluran kredit perbankan.

Alhasil, hingga semester I-2016, penyaluran kredit hanya tumbuh satu digit. Padahal, pemerintah menargetkan pertumbuhan KPR bisa mencapai dua digit tahun ini. 

Data statistik moneter dan fiskal Bank Indonesia (BI) menunjukkan, kredit perbankan pada paruh pertama tahun ini meningkat 8,5% dari periode sama tahun lalu. Pertumbuhan kredit tersebut salah satunya ditopang kredit properti yang mulai naik.

Masih merujuk data BI, segmen KPR dan kredit pemilikan apartemen (KPA) tumbuh sejalan dengan kenaikan kredit bank secara umum, yakni 8%. Namun angka ini lebih baik dari pertumbuhan KPR dan KPA Juni 2015 yang sebesar 7,8%.


Reporter Dadan M. Ramdan, Dina Mirayanti Hutauruk, Elisabet Lisa Listiani Putri, Galvan Yudistira, Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang, Nina Dwiantika
Editor Rizki Caturini

BISNIS PROPERTI

Feedback   ↑ x
Close [X]