: WIB    —   
indikator  I  

Jalan akhir pengendalian rokok di Indonesia

Jalan akhir pengendalian rokok di Indonesia

Penyusutan pabrik

Keinginan untuk melindungi pekerja rokok juga tidak maksimal, sebab kalau dilihat porsi kretek tangan menurun, sedangkan porsi rokok kretek mesin meningkat. Hal itu terjadi karena ada mekanisasi, peralihan dari rokok kretek tangan ke mesin. 

“Itu yang dimaui oleh industri rokok, dengan begitu industri rokok tidak pro tenaga kerja, dia pro mekanisasi. Jadi kalau pemerintah bertujuan melindungi yang kecil yang labor intensif, sebenarnya industri rokok sendiri sudah menggencet yang kecil dan mulai meninggalkan kretek tangan,” kata Abdillah. 

Turunnya jumlah industri rokok dari sekitar 4.000-an menjadi sekitar 700-an pabrik rokok saat ini, menurut Abdillah, juga lebih disebabkan karena ada pertarungan antara industri rokok kecil vs industri rokok besar. Namun yang terjadi adalah yang disalahkan adalah kebijakan cukai, padahal kalau dari kebijakan cukai masih melindungi perusahaan kecil SKT golongan III. 

Sumber: BKF

Menurutnya industri rokok kecil juga kerap dijadikan bemper oleh industri rokok besar untuk menghambat upaya pengendalian rokok. Dia mencontohkan di tahun 2011-2012 ada tuntutan dari industri rokok kecil karena peraturan cukai saat itu di atas 57%. Tuntutan diajukan oleh industri rokok kecil (Formasi), padahal yang tarifnya di atas 57% itu industri rokok besar. 

“Yang menuntut industri rokok kecil, tapi yang diuntungkan industri rokok besar,” kata Abdillah. Dalam UU Cukai Nomer 39 Tahun 2007, tarif cukai rokok maksimal 57%, sedangkan alkohol tarif cukai maksimalnya 80%. 

Dengan kondisi itulah, pihaknya mengusulkan agar kebijakan cukai rokok diberikan sesuai dengan UU cukai. UU cukai bertujuan untuk pengendalian konsumsi rokok, baik rokok kretek, rokok putih, rokok mesin, rokok tangan. 

Caranya adalah dengan simplifikasi cukai selama lima tahun yang ujungnya tarif cukai hanya 2 tingkat, yaitu untuk rokok mesin disamakan, mesin putih, mesin kretek disamakan. “Karena orangnya yang punya juga itu-itu saja,” kata Abdillah. Kemudian kretek tangan besar (SKT 1) dengan tarif cukai sendiri.

Dengan kebijakan cukai yang lebih mengutamakan pengendalian konsumsi, maka perekonomian bisa dibangun berdasarkan masyarakat yang sehat, bukan oleh masyarakat yang kurang sehat, bukan juga ekonomi yang disokong oleh industri rokok. 

Saat ini, menurutnya, industri rokok juga masuk jaya. Abdillah mengaku mengamati lima kota produsen rokok, yaitu Kudus, Pematangsiantar, Kediri, Pasuruan, dan Jepara. Menurut pengamatannya, hanya di Jepara pekerja industri rokok turun, di empat kota lain pekerja industri rokok naik. Apalagi industri rokok saat ini juga sudah tidak bisa tidak nasionalis, karena sudah dibeli oleh perusahaan multinasional. 

Nilai plus dari cukai, kalau sudah dinaikkan seluruh orang akan membayar yang sama. Kena semua orang dan menambah income pemerintah, kalau melarang iklan tidak menambah.  Yang ideal dari kebijakan cukai adalah, pada saat cukai rokok naik tinggi, konsumsi rokok turun, namun penerimaan tetep naik, karena konsumsi rokok inelestis. Yang tidak ideal, penerimaan pemerintah naik tinggi, tarif cukai naik sedikit, konsumsi masih naik banyak. 

Yang saat ini terjadi tarif cukai rokok naik minimal, konsumsi masih naik, produksi masih naik. Sehingga angka angka kesakitan, stroke, hipertensi naik. Data dari Prancis, angka kematian terkait kanker paru-paru di laki-laki menurun, setelah konsumsi rokok menurun dari 30-40 tahun tren. Pada saat dia naikin harga, kemudian baru diikuti penurunan angka kematian akibat kanker paru-paru pada lelaki dewasa. 


Reporter Adi Wikanto, Uji Agung Santosa
Editor Adi Wikanto

LARANGAN MEROKOK

Feedback   ↑ x
Close [X]