: WIB    —   
indikator  I  

Jalan akhir pengendalian rokok di Indonesia

Jalan akhir pengendalian rokok di Indonesia

Produksi berkurang

Peneliti dari Center for Health Economic Policy Studies Budi Hidayat dan Peneliti Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany. “Kenaikan cukai rokok jadi satu-satunya pengendalian tembakau. Perhitungan kami, kenaikan cukai rokok belum optimal menekan jumlah perokok. Kenaikan cukai rokok selama ini terlalu kecil, sehingga gagal mengendalikan peredaran rokok,” kata Budi Hidayat.

Sumber: BKF

Ini terlihat dari kenaikan cukai rokok tahun 2017 yang rendah hanya sekitar 10,5%, akibatnya harga rokok hanya akan naik 7,12% dan jumlah perokok masih di sekitar 53,9 juta orang. Menurutnya akan paling terasa jika harga rokok naik menjadi Rp 50.000, artinya cukai rokok naik 438%, sehingga harga rokok naik 295,89%, dan efeknya jumlah perokok hanya tinggal 37,95 juta orang.  “Pemerintah harus memperbesar kenaikan cukai rokok, jika tak ingin masyarakatnya sakit karena rokok,” kata Hasbullah.

Namun menurut Ditjen Bea Cukai, tarif cukai yang diterapkan saat ini efektif mengendalian konsumsi rokok, terutama dalam dua tahun terakhir. Direktur Cukai Ditjen Bea Cukai Sunaryo mengatakan, penurunan cukai tembakau sangat berpengaruh pada penurunan produksi rokok mencapai lebih dari 1% pada tahun ini. “Stigma orang bahwa konsumsi rokok inelastis dan tidak akan berpengaruh dengan berapapun kenaikan cukai terbantah sudah,” katanya.

Menurutnya jika dalam 3 tahun terakhir produksi rokok stagnan, tahun ini produksi turun lebih dari 1%. Selain kenaikan tarif cukai yang tinggi mencapai 13% di tahun 2016, penurunan produksi rokok, menurut Sunaryo, juga terjadi karena banyak aspek. “Kebijakan tarif cukai tahun kemarin yang naik 13% ternyata cukup berat,” katanya.

Sumber: BKF

Dia bilang tanda-tanda penurunan konsumsi akibat kenaikan tarif cukai 13% sudah ada sejak lebaran bulan Juli 2016. Jika biasanya saat lebaran selesai, stok rokok di distributor habis, menurut Sunaryo, pada tahun kemarin masih menumpuk. Tanda kedua adalah sampai dengan bulan September 2016, jika biasanya pabrikan rokok sudah bisa mentransfer seluruh kenaikan harga ke konsumen akhir, pada tahun kemarin tidak bisa dilakukan. Hal itu terindikasi dari harga di transaksi pasar masih 99% dari harga jual eceran (HJE). Dua indikasi itulah yang menunjukkan kenaikan tarif terlalu berat. 

Selain kenaikan tarif yang berat, kebijakan di luar tarif juga cukup efektif. Adanya larangan merokok di tempat umum, kantor, peringatan kesehatan di kemasan, menurut Sunaryo, juga berdampak. “Jadi akumulasi baik fiskal maupun non fiskal membuat produksi rokok tidak naik bahkan turun, lebih dari 1%,” katanya.


Reporter Adi Wikanto, Uji Agung Santosa
Editor Adi Wikanto

LARANGAN MEROKOK

Feedback   ↑ x
Close [X]