kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.900
  • SUN102,00 -0,22%
  • EMAS614.076 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Amunisi Indonesia di tengah ketidakpastian global

Rabu, 11 Januari 2017 / 17:09 WIB

Amunisi Indonesia di tengah ketidakpastian global
Berita Terkait

Risiko kredit

Dalam riset anyar Moody's Investors Service yang juga dirilis Selasa (11/1), menunjukkan risiko kredit yang relatif stabil di kawasan Asia Pasifik pada tahun ini. Kenaikan tingkat pendapatan dan kinerja perusahaan yang lebih kuat di 2017 menjadi penyokong profil risiko kredit. 

Meskipun pertumbuhan PDB di kawasan ini relatif kuat, namun aktivitas ekspor impor yang kurang greget serta risiko arus dana asing yang keluar dari emerging market bakal jadi batu sandungan. Potensi peningkatan suku bunga AS yang lebih cepat dari ekspektasi pasar bisa membuat arus dana asing keluar dari emerging market secara tiba-tiba.  

Efek langsung akibat perubahan aliran dana itu paling terasa ketika pendanaan digunakan untuk menutupi rekening giro atau untuk pembayaran utang. Indonesia termasuk negara yang memiliki risiko cukup tinggi dengan adanya potensi aliran keluar dana asing secara tiba-tiba tersebut. 

Tingginya ketergantungan Indonesia terhadap dana asing tecermin dalam imbal hasil (yield) surat berharga negara (SBN) Indonesia bertenor 10 tahun mencatatkan level tertinggi di kawasan Asia. 

Data Bloomberg per 5 Januari 2017, yield obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun mencapai 7,64%. Ini melampaui yield obligasi bertenor sama milik pemerintah Malaysia sebesar 4,21%, Filipina 4,19%, Singapura 2,47% dan Thailand 2,65%.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, tingkat yield SBN dipengaruhi oleh besarnya pasar SBN dan volatilitas nilai tukar. Dia juga menduga, tingginya yield Indonesia lantaran adanya kebutuhan mendesak pemerintah, khususnya strategi front loading yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan belanja di tahun ini. Pemerintah memang ingin menerbitkan sekitar 60% obligasinya di semester pertama 2017.

Menurut Lana, pemerintah selalu bermasalah dengan arus kas di awal tahun lantaran penerimaan pajak baru masuk di akhir April setelah pelaporan surat pemberitahuan (SPT) wajib pajak orang pribadi dan wajib pajak badan. Sementara kebutuhan belanja sudah ada sejak 1 Januari.

Tingginya yield obligasi pemerintah juga menyebabkan terjadinya tarik menarik likuiditas antara pemerintah dan perbankan. "Oleh karena itu, harapannya penerimaan pajaknya bisa lebih tinggi agar tidak tergantung dengan utang," tambah Lana.


Reporter: Adinda Ade Mustami, Rizki Caturini
Editor: Rizki Caturini

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hotel Santika Premiere Slipi Jakarta
14 May 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy
Close [X]
×