: WIB    —   
indikator  I  

Berandai-andai dengan hasil Pemilu Amerika

Berandai-andai dengan hasil Pemilu Amerika

WASHINGTON. Seluruh mata dunia saat ini tengah tertuju pada kondisi politik Amerika Serikat (AS). Pasalnya, dalam hitungan hari, tepatnya 8 November 2016, warga Negeri Paman Sam itu akan menentukan nasib mereka untuk empat tahun ke depan dengan ikut serta dalam pemilihan umum presiden AS.

Kali ini, ajang pilpres di AS lebih banyak diwarnai dengan drama oleh dua kandidat utama, yakni Hillary Clinton dari Partai Demokrat dan Donald Trump dari Partai Republik.

Dua calon tersebut selama ini memang kerap 'saling serang' satu sama lain. Aksi serang ini bukan menyangkut masalah visi, misi, atau kebijakan masing-masing kandidat. Bahkan, dalam debat pilpres yang sudah digelar sebanyak tiga kali, selalu diwarnai dengan perdebatan soal kepribadian semata.

Banyak pihak yang menilai, perdebatan tersebut terbilang 'bar-bar' dalam sejarah modern pemilu Amerika.

Sebagai negara dengan perekonomian terbesar dunia, drama yang terjadi di dunia perpolitikan AS turut mempengaruhi pasar finansial global.

Berdasarkan penilaian sejumlah analis, Wall Street cenderung menyukai Clinton dibanding Trump sebagai pihak yang menang. Makanya, jika Trump yang keluar sebagai pemenang, maka dipastikan akan ada guncangan-guncangan yang terjadi di pasar finansial.

Adanya kemungkinan kandidat Presiden AS asal Partai Republik, Trump, memenangkan pemilu AS bahkan memicu kecemasan banyak pihak. Delapan peraih Nobel bersama 362 ekonom AS menulis sebuah surat terbuka yang menuliskan alasan mengapa warga Amerika jangan memilih Trump.

Surat, yang dirilis Selasa (1/11) dan dilaporkan oleh Wall Street Journal, berisi tentang 13 argumen para ekonom melawan Trump. Kendati demikian, dalam surat tersebut tidak menyebutkan secara spesifik pilihan kandidat lain yang lebih baik untuk menggantikan Trump.

"Donald Trump merupakan pilihan yang berbahaya dan merusak bagi negara. Dia menghasut pemilih, menurunkan kepercayaan terhadap lembaga-lembaga publik dengan teori konspirasi, dan mempromosikan delusi yang disengaja atas realita yang ada," demikian salah satu penggalan surat para ekonom seperti yang dikutip dari WSJ.

"Jika terpilih, dia membuka risiko bahaya yang unik atas fungsi demokrasi dan institusi ekonomi, serta kemakmuran bagi negara. Atas alasan ini, kami merekomendasikan dengan sangat tegas agar Anda tidak memilih Donald Trump," demikian kesimpulan dari surat tersebut.

Di luar dari surat tersebut, banyak juga ekonom yang menentang kebijakan kandidat presiden AS asal partai Demokrat, Hillary Clinton. Dalam surat yang dipublikasikan pada September, 306 ekonom mempublikasikan sebuah surat melawan agenda ekonomi sakit dari Clinton.

Berikut ini sejumlah prediksi jika Clinton atau Trump yang memenangkan pemilu.


SUMBER : CNBC,Bloomberg
Editor Barratut Taqiyyah

AMERIKA SERIKAT / AS

Feedback   ↑ x
Close [X]