: WIB    —   
indikator  I  

Awas, jerat investasi bodong terus mengintai

Awas, jerat investasi bodong terus mengintai

Masih panjang

Tengok saja pada kasus Pandawa Group yang ditaksir merugikan nasabah mencapai Rp 3 triliun merujuk hitungan Polda Metro Jaya. Sementara itu, Firma Hukum Purwanto Kitung and Associate selaku kuasa hukum nasabah memperkirakan jumlah kerugian nasabah capai Rp 6 triliun.

Kini, pihak Polda terus mengusut dan mengembangkan kasus ini pasca tertangkapnya Salman Nuryanto selaku pimpinan Pandawa Group, Senin (20/2). Selain Salman, polisi juga menetapkan tiga orang lainnya, yakni Subadi dan Taryo selaku tenaga administrasi serta Madamin selaku leader.

Keempat tersangka dijerat dengan Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan, Pasal 378 KUHP tentang Penipuan, dan/atau Pasal 46 UU No 10 Tahun 1998 tentang Perbankan juncto Pasal 3, 4, 5, dan 6 UU RI No 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Tak lama, dua istri dan mertua Nuryanto diamankan polisi dengan status sebagai tersangka. "Telah diamankan juga tiga orang, yaitu N istri pertama, C istri kedua, dan D orang tua istri kedua," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Argo Yuwono.

Sejauh ini, polisi sudah mengantongi setidaknya ada 40 sertifikat tanah yang tersebar di beberapa daerah di Jawa, Sumatra, dan Batam. Ada pula 12 rekening tabungan yang telah dibekukan serta belasan kendaraan berupa mobil dan sepeda motor

"Aset tersebut ada yang atas nama tersangka, istri pertama, istri kedua, adiknya dan sebagainya. Kami masih telusuri terus," tutur Argo.

Modus Salman dan kroninya dalam menghimpun dana yakni, calon anggota diiming-imingi bagi hasil sekitar 10% per bulan tergantung tingkatan, mulai dari bintang 1 hingga 7 dan di tingkat tertinggi diberi istilah diamond. Tingkatan diatur berdasarkan dana yang bisa dititipkan.

Salah satu anggota Koperasi Pandawa enggan disebut namanya mengaku awalnya tertarik lantaran cerita kawannya. Pegawai kantor Pos di daerah Depok ini makin yakin setelah datang ke pengajian yang diadakan kawannya yang lebih dulu ikut.

Di situ, hadir pula politisi terkenal dan artis. Awal Desember lalu, ia pun mendaftar dan menitipkan uang Rp 40 juta. "Lama-lama saya ikut juga. Yang bikin nyesek, saya ikut pakai duit utang," tuturnya.

Hingga kini, polisi masih melakukan penyidikan terutama untuk mencocokkan nilai aset milik para tersangka dengan jumlah kerugian yang dialami para korban. Untuk itu, Ditreskrimsus Polda Metro Jaya masih membuka crisis center.

Dalam sehari, polisi mengaku bisa mendapat laporan sekitar 1.000 hingga 2.000 nama baru. Namun data korban ini belum seluruhnya masuk ke laporan resmi. Pasalnya, kepolisian harus memverifikasi laporan korban.

Untuk itu, korban yang melapor disyaratkan membawa beberapa dokumen, yaitu identitas diri (KTP), bukti telah mentransfer ke Koperasi Pandawa dan surat perjanjian kerja sama (SPK).

Jika bukti transfer tak ada, polisi enggan menerima laporan. "Jumlah laporan polisi (LP) untuk sementara 22 LP. Berdasar LP itu saja, ada sekitar 1.300 korban," kata Argo.

Bagi nasabah sendiri, tertangkapnya Salman sedikit mengobati rasa was-was perihal nasib dananya. Pasalnya, nasabah masih harus bersabar lagi untuk mendapatkan kembali duitnya yang tertahan.

Nantinya, dana nasabah akan dikembalikan setelah aset dan harta Salman dilelang. “Memang perlu menunggu putusan hakim mengenai pelelangan ini tapi lebih cepat lebih baik memproses semua berkas yang diminta agar nantinya lebih mudah,” terang Dimas, salah satu nasabah.

Berkaca dari kasus-kasus investasi bodong lainnya, acapkali nasabah tidak menerima pengembalian sesuai yang diharapkan. Lantaran, aset-aset yang dilelang tak mencukupi. Apes memang ini namanya.


Reporter Eldo Christoffel Rafael, Namira Daufina, Yudho Winarto
Editor Yudho Winarto

SATGAS WASPADA INVESTASI

Feedback   ↑ x
Close [X]