: WIB    --   
indikator  I  

Alasan Arab Saudi marah besar terhadap Qatar

Alasan Arab Saudi marah besar terhadap Qatar

Pimpinan Komisi Keamanan Nasional Iran Alaeddin Boroujerdi menyalahkan kunjungan Presiden AS Donald Trump beberapa waktu lalu ke Arab Saudi dan intervensi AS atas terjadinya keretakan hubungan tersebut.

Pada waktu itu, Arab Saudi menyetujui kesepakatan transaksi senjata dengan AS senilai US$ 300 miliar yang menguntungkan yang bisa memperkuat kepemimpinannya, dan mempercayai bahwa AS akan mendukung tindakan Arab Saudi melawan Qatar.

Ketegangan pertama terjadi sekitar dua pekan lalu saat Qatar mempublikasikan cerita yang mengatakan Al Thani telah menyebut Iran 'sebagai negara regional dan kekuasaan Islam yang tidak bisa diabaikan'. Menurut Qatar, kantor berita dan akun Twitter milik pemerintah diretas dan cerita itu adalah palsu. Namun, sejumlah media yang terkait dengan pemerintah Qatar terus mempublikasikan cerita tersebut.

Alhasil, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir memblokir akses ke Al Jazeera dan situs-situs afiliasinya.

Kendati demikian, Amerika Serikat memiliki hubungan yang erat dengan kedua negara. Arab Saudi merupakan aliansi terdekat AS di kawasan Teluk. Sementara Qatar merupakan rumah bagi pangkalan udara al-Udeid dan hampir 10.000 pasukan AS.

Qatar juga bukan orang luar bagi negara Barat. Qatar dijadwalkan akan menjadi tuan rumah FIFA World Cup 2022, yakni turnamen internasional sepakbola yang akan berlangsung sebulan penuh dan merupakan ajang olahraga paling populer dunia. Qatar juga merupakan produsen liquefied natural gas terbesar dunia dan memiliki sebagian underwater field dengan Iran.

Arab Saudi merupakan satu-satunya negara yang tanahnya berbatasan langsung dengan Qatar. Penduduk Qatar yang populasinya lebih dari 2,5 juta orang hidup dari truk-truk penyuplai barang yang melewati perbatasan kedua negara.

Menteri Luar Negeri Qatar menilai keputusan tersebut tidak adil karena didasarkan pada tuduhan tanpa bukti. Qatar berulang kali menegaskan negaranya tidak menyokong kelompok militan di kawasan. Namun, Qatar mendapat sambutan dingin dari negara-negara Sunni lainnya atas dukungannya terhadap Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood) di Mesir. Qatar juga penyokong dana utama di Gaza, yang dikontrol oleh Hamas. Hamas dinilai sebagai kelompok teroris oleh AS dan beberapa negara lainnya.

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, saat berbicara pada konferensi pers di Australia, mengatakan bahwa semakin banyak daftar hal-hal yang mengganggu di kawasan Teluk dalam beberapa bulan terakhir.

"Cukup jelas bahwa terjadi penggelembungan masalah hingga ke level di mana negara-negara terkait memutuskan untuk mengambil aksi untuk menangani perbedaan yang ada. Kami tentu saja akan mendukung pihak-pihak bertikai untuk duduk bersama dan mencari jalan keluarnya Dan kami -jika ada peran yang dapat kami jalankan untuk membantu mengatasi masalah yang ada- kami rasa sangat penting bagi GCC (Gulf Cooperation Council) untuk tetap bersatu," papar Tillerson.


SUMBER : money.cnn,CNBC
Editor Barratut Taqiyyah Rafie

ARAB SAUDI

Feedback   ↑ x
Close [X]